Ditentang 2 Kelompok, Diskusi Soal Tan Malaka di Semarang Dipindahkan

Ditentang 2 Kelompok, Diskusi Soal Tan Malaka di Semarang Dipindahkan

Angling Adhitya Purbaya - detikNews
Senin, 17 Feb 2014 14:32 WIB
Ditentang 2 Kelompok, Diskusi Soal Tan Malaka di Semarang Dipindahkan
Foto: Angling Adhitya P/detikcom
Semarang - Komunitas seni di Semarang, Hysteria berencana menggelar diskusi dan bedah buku tentang Tan Malaka karya Harry A. Poeze di base camp mereka. Namun acara tersebut mendapat pertentangan dari berbagai pihak hingga harus dipindahkan.

Salah satu yang mentang adalah warga RT 03 RW 04 Kelurahan Bendan Ngisor Kecamatan Gajahmungkur. Ketua RT setempat, Endah Sulistya mengatakan acara yang digelar wilayahnya itu dikhawatirkan menimbulkan gangguan keamanan.

"Mereka juga tidak meminta izin. Saat ditanya berapa orang yang akan hadir juga tidak bisa mengidentifikasi," kata Endah kepada detikcom, di Bendan Ngisor, Semarang, Senin (17/2/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penolakan warga dilatarbelakangi peristiwa yang pernah terjadi ketika komunitas tersebut mengadakan acara seni. Ketika itu warga merasa terganggu karena area parkir mengganggu jalan.

"Selain itu sound system-nya suaranya keras sekali sampai tengah malam," tegasnya.

Pihak lain yang menolak adalah LSM Masyarakat Peduli Nasib Bangsa (Mapenab). Sekitar 20 orang dari Mapenab mendatangi base camp Hysteria di Jalan Stonen no.29 untuk mendesak agar acara tersebut tidak digelar. Ketua Mapenab Jateng, Sucipto mengatakan Tan Malaka dalam akhir perajalanannya terlibat gerakan yang gagasannya berpaham komunis.

"Diskusinya masuk akademisi saja, jangan masuk ke masyarakat. Tapi itu (diskusi) untuk apa? Tan malaka adalah seorang sosok yang terlibat komunisme," tegasnya.

Sementara itu, sekretaris kelompok pemerhati sejarah kota Semarang, Yunantyo Adi yang juga berlaku sebagai moderator dalam acara tersebut mengatakan, pihak yang menolak acara tersebut belum mengerti sejarah Tan Malaka.

"Mereka sepertinya belum mengerti siapa Tan Malaka. Dia itu yang ikut gerilya sama Jenderal Sudirman, dia bertugas di Jawa Timur. Di sana dia ditembak oleh satuan TNI lain yang salah paham," ujarnya.

"Lebih baik kalau mau ikut sekalian saja diskusinya," imbuhnya.

Terkait sejumlah elemen yang menolak, Yunantyo menegaskan pihaknya sudah bertemu dengan perwakilan mereka dan mengatakan maksud sebenarnya diskusi tersebut, termasuk FPI Jateng. Dari hasil pertemuan tersebut, sejumlah elemen sudah tidak mempermasalahkan lagi.

"Yang mau didiskusikan itu pertarungan Tan Malaka melawan PKI Muso. Kemudian tahun 1963 ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Penulis buku itu juga mengusulkan pemindahan makam Tan Malaka, itu yang mau dibahas," terangnya.

Melihat masih adanya penolakan, acara yang rencananya digelar pukul 19.30 WIB nanti terpaksa dipindahkan sebagai langkah tengah. "Sudah Konsultasi ke Polrestabes. Solusinya akan tetap jalan, tapi permintaan narsum (Harry A. Poeze) agar pindah tempat. Kita cari tempat baru, usahakan di kampus. Kalau kampus tidak bisa, katanya pak Gubernur bersedia ketempatan di rumdin," tuturnya.

Dari pantauan detikcom, demi menjaga keamanan, satu peleton polisi disiagakan sejak dari gang masuk hingga base camp Hysteria. Kasat Intelkam Polrestabes Semarang AKBP Ahmad Sukandar mengatakan, sebelumnya banyak pihak yang melakukan penolakan dan memberikan surat resmi ke Polrestabes Semarang.

"Warga juga menolak, mengirim surat resmi. Tapi pihak penyelenggara bertemu dengan yang menolak. Nanti dipindahkan lokasinya," terang Sukandar.

(alg/trw)


Berita Terkait