"BNPT ini kerjanya apa? Apa bedanya dengan Densus 88? Kalau tidak ada bedanya dan tidak ada kordinasinya buat apa ada BNPT?" tanya Sudding di Ruang Rapat Komisi III DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (10/2/2014).
Kepala BNPT Ansyaad Mbai pun tersinggung dengan pertanyaan tersebut. Menurut dia tak seharusnya seotang anggota dewan melontarkan pertanyaan yang memojokkan.
"Saya mau jawab pertanyaan Pak Sudding yang menurut saya tiga tahun berturut-turut menanyakan hal yang sama. Menurut saya, hanya teroris yang ingin agar BNPT dibubarkan," tandas Ansyaad.
"Pak Ansyaad, tarik kata-kata anda! Saya cuma menanyakan mengenai kinerja BNPT. Kenapa saya dibilang teroris? Ini pertanyaan dari konstituen saya di Sulawesi," tandas Sudding balik.
Melihat kekisruhan tersebut seorang anggota Komisi III pun meminta agar pimpinan rapat mengambil sikap. Selaku pimpinan rapat adalah Ketua Komisi III Pieter Zulkifli.
"Pak Sudding, biarkan Pak Ansyaad menjawab pertanyaan yang lain terlebih dahulu," kata Pieter.
"Interupsi, Pimpinan. Saya mau usul agar kita melalukan rapat tertutup saja, karena saya lihat belum ada keselarasan anggapan mengenai tugas BNPT dengan Densus 88," kata anggota Komisi III Martin Hutabarat.
Anggota Komisi III lainnya Fahri Hamzah pun setuju dengan pendapat tersebut. Usulan ini diperkuat oleh Wakil Ketua Komisi III Aziz Syamsudin.
"Kalau memang demikian, saya setuju setelah ini kita melakukan rapat tertutup. Mengenai jadwalnya nanti menyusul. Namun BNPT dipersilakan menyampaikan jawaban tertulis terlebih dahulu," kata Pieter Zulkifli yang kemudian menutup rapat.
Setelah rapat yang hanya berlangsung 60 menit tersebut para anggota dewan bersalaman dengan BNPT. Rapat berakhir tanpa ada pembacaan kesimpulan.
(bpn/van)











































