Ada yang berbeda di Stasiun Bekasi, Rabu (5/2/2014) pukul 09.15 WIB. Jika biasanya jalur 2 dan 3 dipenuhi penumpang kereta atau rombongan kereta (roker) yang akan menuju Stasiun Jakarta Kota, kali ini penumpang yang turun terlihat lebih banyak dari yang naik.
Ya, wajar saja karena persinyalan di Stasiun Jakarta Kota terganggu. Ditambah rel yang terendam banjir di Stasiun Kampung Bandan.
Sebagian besar penumpang memilih balik lagi ke rumah. Seperti Anton yang mengaku sudah terlambat masuk kantor di bilangan Cikini, Jakarta Pusat. "Percuma diterusin juga, sudah telat. Jalanan banjir, ya lebih baik saya pulang lagi," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jalanan banjir, rumah saya juga kebanjiran. Air sudah mulai naik lagi. Daripada maksa, sudah lebih baik pulang. Potong gaji enggak apa-apa," ujarnya.
Pantauan Detikcom di dekat pintu keluar Stasiun Bekasi, penumpang sangat padat. Baik yang rencananya menuju Jakarta Kota, maupun mereka yang baru datang dari Jatinegara.
Kekacauan terjadi karena gate tap out hanya dibuka dua baris, sehingga menyebabkan antrian mengular sampai mendekati peron jalur 1. Beberapa penumpang terlihat geram dan menumpahkan emosi.
"Pak, itu dibuka dong gate-nya! Sudah tahu kereta enggak bisa jalan, masih saja dibuka gate in! Mau cari untung saja KAI ini!" kata seorang bapak menggerutu.
"Ini dibuka dong gate-nya. Yang keluar kan banyak!" teriak penumpang lain.
Persoalan lain lagi terjadi manakala pemilik tiket elektronik berlangganan (KMT) ingin tap out di pintu keluar. Mereka belum melakukan tap out di Stasiun Jatinegara karena tetap berada dalam kereta yang kembali lagi.
Nah, jika tiket elektronik ini belum di tap out di stasiun tujuan, maka pengguna akan dikenakan penalti jika ingin melakukan tap in lagi keesokkan harinya.
Alhasil, sejumlah pengguna tiket elektronik berlangganan ramai-ramai menuju ruang Kepala Stasiun Bekasi untuk meminta penjelasan.
"Kami enggak mau rugi dong. Masa kereta gangguan, kena penalti juga?" kata seorang penumpang, Hera.
Di ruang Kepala Stasiun, seorang staf bernama Bambang memberi penjelasan. "Enggak apa-apa di proses tap out saja, nanti dapat penggantian di loket sebesar Rp 5000. Jadi, ibu hanya bayar perjalanan Rp 2000 ke Jatinegara," ujarnya.
Meski mendapat ganti rugi dan tidak kena penalti, penumpang harus lagi-lagi bersabar karena antrian keluar masih panjang. Begitu pun antrian di loket khusus KMT yang hampir mencapai parkiran.
(fip/ndr)











































