Para Kiai Sepuh Daulat Gus Dur Menjadi Rais Am PBNU
Minggu, 28 Nov 2004 16:45 WIB
Solo -
Para kiai sepuh yang menjadi penyangga utama NU berkumpul di Hotel Novotel Solo, Minggu (28/11/2004) siang hingga menjelang sore. Inti pertemuan adalah mendaulat Gus Dur agar bersedia menjadi rais am atau pimpinan tertinggi NU untuk periode 2004-2009. Gus Dur yang juga hadir tidak memberi jawaban tegas.Pertemuan itu digelar di Borobudur Ballroom, Hotel Novotel, Solo. Meskipun sebuah moment penting yang dihadiri para tokoh kharismatik, sesuai kekhasan NU acara tetap berlangsung santai. Bahkan semua kursi dikeluarkan dari ruangan diganti karpet warna hijau yang cukup lebar.Para kiai sepuh itu duduk berderet menghadap ke timur, sedangkan hadirin lain yaitu nahdliyyin yang menolak politisasi NU duduk bersila melingkar menghadap para kiai tersebut. Hadirin lainnya yang tidak kebagian tempat, berdiri di belakang mereka berdesakan dengan puluhan wartawan yang meliput acara.Para kiai yang hadir, antara lain, KH Abdullah Abbas (Cirebon), Tuan Guru Turmudzi (Lombok) KH Aziz Amin (Jakarta), KH Muhaiminan Gunardo (Temanggung), KH Sanusi Baco (Sulsel), KH Hamdan Khalid (Martapura), KH Mas Subadar (Pasuruan), KH Khatib Umar (Jember), KH Nurul Huda Jazuli (Kediri), KH Sholeh Khosim (Surabaya), KH Zainuddin Maftuchin (Rembang).Hadir pula KH Hanif Muslich (Demak), KH Mahfud Shobari (Mojokerto) dan lain-lainnya. KH Abdullah Faqih dari Tuban dan KH Chasbullah Badawi dari Cilacap tidak hadir dengan alasan kesehatan kurang memungkinkan namun menyatakan seiring dengan pendapat para kiai yang hadir.Tampil sebagai juru bicara para kiai sepuh adalah KH Muhaiminan Gunardo. Pengasuh Ponpes Bambu Runcing Ki Ageng Parak di Parakan, Temanggung tersebut dengan tegas menyatakan bahwa dirinya diminta oleh para kiai sepuh untuk meminta Gus Dur bersedia menjadi rais am PBNU periode 2004-2009.Mendapat 'pinangan' tersebut, Gus Dur yang duduk diapit KH Abdullah Abbas dan KH Sholeh Khosim tidak langsung menyatakan setuju meskipun dia juga tidak memberikan penolakannya. Dia hanya mengatakan bahwa posisi rais am adalah posisi tertinggi di NU sebagai pemimpin spiritual. Karenanya seharusnya posisi itu ditempati oleh ahli ilmu fiqih."Dari sejak dipimpin Hadratusy Syeih KH Hasyim Asy'ari di awal berdirinya NU hingga KH Sahal Mahfud sekarang ini, semua para kiai yang dipercaya memegang jabatan itu adalah ahli fiqih. Sedangkan saya bukan ahli fiqih. Namun demikian ya terserah muktamar nantilah," jawabnya. Jawaban ini dinilai oleh seluruh yang hadir sebagai persetujuan Gus Dur. Seusai acara, KH Muhaiminan kepada wartawan mengatakan bahwa NU saat ini sedang terancam rusak karena telah diseret ke sana-ke mari oleh kepentingan elit pengurusnya. "Gus Dur kita harapkan mampu menyelematkannya dari kepentingan coro-coro (kecoa-kecoa) itu. Sebagai Ketua tanfidziyah kita harapkan nantinya adalah Gus Mus," ujar KH Muhaiminan.
(asy/)










































