"Dulu di sini kita jual tiket, bangunannya masih triplek, belum ada bagus kaya begini," kata karyawan perusahaan otobus (PO) Haryanto ini.
Pria yang bekerja di terminal Lebakbulus sejak tahun 1986 ini bercerita bahwa banyak perubahan telah terjadi di terminal ini. Ia sempat menyaksikan kala terminal masih dipenuhi rumput alang-alang hingga kini menjadi bersih dan nyaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai peristiwa penting di hidup Mustaqim pun terjadi di terminal Lebakbulus. Salah satunya adalah pertemuannya dengan sang istri.
"Ketemu bini di sini nih. Dia karyawan di terminal juga. Dulu ya kita cuma lirik-lirikan aja, dia jaga di loket saya lihatin dari luar," kenangnya.
Mustaqim dan istrinya kemudian menikah pada tahun 2006 dan kini sudah dikaruniai seorang putri berusia 7 tahun. Sekarang, pria berusia 45 tahun ini terpaksa harus mengucapkan selamat tinggal pada lahannya mencari nafkah.
"Kita tetap tidak ingin pindah. Kita berharap masih boleh walau hanya 1 lintasan, asal masih bisa jualan tiket," sambung pria yang tinggal di Pesanggrahan ini.
Kini Mustaqim hanya bisa berharap pemprov mendengar suara ia dan rekan-rekannya yang telah melakukan aksi sejak pagi tadi. Semoga terminal yang telah menjadi bagian dari hidupnya ini tidak jadi ditutup tengah malam nanti.
(mad/mad)










































