Hal ini diakui seorang penjual bando elektronik, Sholeh (27). Sehari-hari ia berjualan bando bertanduk dengan kerlip lampu merah dan biru di sekitaran Monas.
Di malam tahun baru ini, ia menambah barang dagangannya dengan kembang gula, terompet dan variasi bando elektrik lainnya. Tak hanya itu, harganya pun dibuat agak mahal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sholeh, penambahan itu wajar di malam tahun baru. Sasarannya lebih ditujukan pada anak kecil maupun remaja yang mencari pernak-pernik untuk berfoto.
"Sekali setahun ini koq," ungkapnya.
Sudah 5 tahun ia berdagang bando+bando tersebut. Ia kerap berpindah tempat jika ada acara besar seperti konser, demo buruh atau acara besar lainnya. Sekali berjualan ia mampu meraup untung hingga Rp 1 juta.
"Kalau lagi ramai kayak tahun baru, bisa sejuta. Kalau tidak ya paling Rp 200 ribu," terangnya.
Berbeda dengan Sholeh, Hamid (35) yang juga berjualan bando elektrik mengaku tak banyak dapat untung hari ini. Menjelang pergantian tahun, ia malah menurunkan harga bando yang biasa dijualnya Rp 15 ribu menjadi Rp 10 ribu.
"Tadi sudah hujan, nggak apa-apa deh nggak untung. Yang penting modalnya balik," terang Hamid.
Berbagai jajanan pernak pernik memang ramai di jajakan di acara Jakarta Night Festival. Mulai dari terompet, bando elektrik, topeng atau makanan kecil lainnya.
Β
(bil/gah)











































