Hasyim Dinilai Gagal Pimpin NU

Hasyim Dinilai Gagal Pimpin NU

- detikNews
Selasa, 23 Nov 2004 14:11 WIB
Jakarta - Kader muda Nahdlatul Ulama (NU) menilai selama lima tahun sebagai Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi telah gagal memimpin organisasi muslim terbesar di dunia itu. 'Rapor' Hasyim semakin jeblok ketika dia masuk politik praktis sebagai cawapres dengan menggunakan NU sebagai kendaraan politik pribadi.Pimpinan Padepokan Fajr An-Nahdlah Al-Islamiyyah Kartosuro, Solo, Miftah Fagih, misalnya dengan tegas mengatakan bahwa Hasyim telah melakukan kesalahan fundamental dengan menjadikan NU sebagai kendaraan politik dan menjerumuskan organisasi kaum sarungan dan sandal jepit tersebut dalam ranah politik praktis."Kegagalan Hasyim Muzadi dalam Pilpres sama sekali bukan karena rendahnya wibawa NU atau wibawa para kiai pendukungnya. Kegagalan itu semata-mata karena kesalahan fundamental yang dilakukan Cak Hasyim menjadikan NU sebagai kendaraan politik pribadinya," ujar Miftah Faqih kepada wartawan di Solo, Selasa (23/11/2004).Dosen filsafat di IAIN Sunan Kalijogo dan UGM tersebut menegaskan, dalam situasi apa pun, NU harus tetap menjadi wadah bagi para ulama untuk berkhidmat pada Islam, umat dan bangsanya. Karena itulah, menurut Miftah, Muktamar di Solo adalah kesempatan terakhir bagi NU untuk kembali pada jati dirinya dengan tidak memilih kembali pimpinan yang telah mencederai khittah NU."Jangan pilih kembali pimpinan atau siapa pun juga person yang terlibat dalam dosa politisasi NU. Pilihannya hanya dua, pada muktamar kali ini juga kembali memantapkan diri sebagai ormas keagamaan atau tidak akan pernah kembali untuk selamanya," kata master lulusan Sorbonne University yang saat ini sedang menempuh program doktor untuk bidang rekonstruksi teologi tersebut.Secara terpisah, pengasuh Pesantren Mahasiswa Al-Muayyad Windan Solo HM Dian Nafi' menilai salah satu kegagalan mendasar yang dilakukan Hasyim Muzadi adalah mengabaikan penyelesaian konflik internal nahdliyyin di sejumlah daerah. Dicontohkannya, konflik Madura dan Dayak di Kalimantan banyak melibatkan sesama warga NU dari kedua suku yang dipicu hanya karena perbedaan kultur.Anggota tim relawan nasional untuk rekonsiliasi di sejumlah wilayah konflik ini memaparkan bahwa NU didirikan untuk mengakomodasi Islam lokal. Namun dalam perkembangannya Islam lokal ini tereduksi menjadi Islam khas Jawa. Selanjutnya yang terjadi bukan pribumisasi tapi Jawanisasi.Konflik mulai terjadi ketika terjadi perpindahan penduduk Jawa dan Madura, yang sebagian besar adalah warga NU, ke pulau-pulau lain. Selanjutnya terjadilah ketegangan kultur dengan warga lokal yang juga warga NU setempat. "Nahdliyyin yang dari Jawa dan juga Madura lalu merasa hanya Islam dengan kekhasan seperti mereka yang bisa disebut NU. Akhirnya konflik terbuka pendatang dan warga lokal tidak terhindarkan lagi. Sementara PBNU selama lima tahun ini tidak melakukan langkah-langkah yang memadai untuk meredakannya," paparnya."Seharusnya salah satu program kerja utama Pak Hasyim Muzadi selama lima tahun ini adalah menangani masalah-masalah tersebut. Namun sayangnya beliau justru lebih tergoda pada hal-hal yang seharusnya bukan menjadi wilayah tugasnya, seperti memasuki dunia politik praktis yang dilakukakannya itu," papar mantan Ketua PCNU tersebut. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads