Ahli Waris PB XII Pertanyakan Keaslian Surat Wasiat

Ahli Waris PB XII Pertanyakan Keaslian Surat Wasiat

- detikNews
Kamis, 18 Nov 2004 20:39 WIB
Solo - Ontran-ontran di Kraton Surakarta belum juga mereda. Salah seorang putra almarhum PB XII mempertanyakan keaslian surat wasiat yang hingga sejauh ini dijadikan sebagai salah satu 'senjata' oleh pihak Hangabehi untuk menobatkan diri sebagai raja. Termasuk yang diragukan adalah proses pembubuhan cap jempol PB XII.Adalah GPH Suryowicaksono, anak ke-25 almarhum PB XII dari selir Pujaningrum, yang membongkar keberadaan surat wasiat yang meragukan tersebut. Sebelumnya Suryowicaksono selama ontran-ontran suksesi kraton terjadi, memilih untuk tidak ikut campur dan bersikap netral dan lebih banyak berada di Jakarta."Ketika saya rasa konflik keluarga semakin tidak ada titik temu, saya berinisiatif untuk mempertanyakan tentang keberadaan surat wasiat itu ke pihak Mas Behi (Hangabehi -red). Namun setiap saya tanya mereka selalu berkelit untuk memberikan, hingga akhirnya beberapa hari lalu saya mendapatkan hasil scaning dari surat wasiat itu dari seseorang di kraton," ujarnya di Solo, Kamis (18/11/2004).Gusti Neno, demikian dia biasa dipanggil, lalu membagikan copy-an scaning itu. Disebutkan dalam dua lembar surat yang dibubuhi cap jempol yang dikatakan sebagai cap jempol PB XII tersebut, bahwa surat wasiat itu dibuat di Tawangmangu 3 Juni 2004. Keduanya menggunakan bahasa campuran Indonesia dan Jawa dengan tata bahasa dan cara penulisan yang tidak memadai.Selain 'cap jempol' PB XII, terdapat tanda tangan sejumlah putra dan menantu PB XII dari pihak selir Pradapaningrum, termasuk KGPH Hangabehi, serta beberapa abdidalem. Disebutkan bahwa KGPH Hangabehi agar waspada, hati-hati, sabar dan tekun serta tidak gegabah menerima adeging ratu (tampuk raja)."Sekarang saya tantang kubu Mas Behi, apakah benar wasiat yang katanya mereka terima dari almarhum Sinuhun itu seperti yang saya dapatkan. Kalau benar seperti itu, pertanyaan saya berikutnya adalah bagaimana proses pembubuhan cap jempol Sinuhun. Kalau benar itu cap jempol Sinuhun, saya yakin pembubuhannya dipaksakan saat Sinuhun sudah sakit dan tidak sadarkan diri," ujar dia.Dia yakin jika ayahandanya masih sadar tidak akan bersedia memberikan cap jempol. Kalaupun Sinuhun berkenan membuat surat wasiat maka akan membubuhkan tanda tangan dan cap stempel kraton. Selain itu pembuatan surat dilakukan oleh Panitera Kraton. "Tulisan di dua surat itu juga bukan bahasa Sinuhun. Itu bahasanya Murtiyah (adik kandung Hangabehi). Saya hapal betul," ketusnya.Sementara itu penasehat PB XIII Tedjowulan, Hari Susilo menegaskan bahwa pihaknya juga tidak yakin dengan keaslian surat wasiat itu. Selain itu, kata Edi, keabsahan sebuah surat wasiat baru bisa diakui jika pihak penerima wasiat menunjukkan keberadaan surat itu kepada seluruh ahli waris. "Kalau tetap tidak ditunjukkan mana kita tahu kalau ada surat wasiat," kata Edi.Selamatkan Warisan BudayaBerkaca pada kasus Kraton Surakarta, Wakil Ketua MPR Mooryati Soedibyo meminta kepada semua kalangan terutama pemerintah agar semakin meningkatkan kepedulian terhadap warisan budaya leluhur yang tersimpan di dalam kraton-kraton sebagai puncak-puncak capaian peradaban jaman yang telah terakumulasi selama ratusan tahun.Mooryati yang juga kerabat Kraton Surakarta lalu mencontohkan konflik internal di kraton Surakarta akhirnya berekses pada merebaknya kabar usaha sejumlah ahli waris kraton yang hendak menjual pusaka kraton. Hal tersebut kemungkinan dilakukan karena sudah tidak ada sumber dana lagi, sementara pihak yang berseteru mengeluarkan banyak biaya untuk kepentingannya."Kraton sekarang bukan lagi milik anak-anak rajanya, tapi sudah menjadi milik bangsa. Seharusnya para budayawan dan pemerintah ikut secara proaktif mencegah terjadinya penjualan pusaka-pusaka kraton yang sudah tidak ternilai lagi harganya. Saya himbau juga para kolektor untuk menolak jika ada orang menawarkan barang yang disebut sebagai pusaka kraton," ujar Mooryati. (djo/)


Berita Terkait