Ngajiran yang berasal dari Embarkasi Surabaya kelompok terbang (kloter) 7 itu memiliki ciri-ciri postur tubuh kurus dengan tinggi badan 160 centimeter. Ia berangkat haji ke Arab Saudi bersama seorang keponakannya.
Ada 444 jamaah haji, termasuk Ngajiran yang tergabung dalam Embarkasi SUB 7. Mereka menghuni pemondokan nomor 217 di kawasan Mahbas Jin, Makkah. Sejatinya, pria asal Bojonegoro itu pulang ke Tanah Air bersama kelompoknya pada Selasa 22 Oktober 2013 malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Keponakannya meminta ambulans ke Sektor 2 tetapi tidak ada karena sedang melayani prosesi Armina," kata Asep.
Lalu, kata Asep, dokter dan pemilik gedung berinisiatif menghubungi ambulans Arab Saudi. Ngajiran diantar ke RS Mina Aljirs pada 19 Oktober 2013 pukul 00.00 WAS.
"Ada rangkaian yang terputus. Seyogyanya ada surat pendaftaran pasien, penyerahan pasien tetapi ini tidak ada," ujarnya.
Ia mengatakan keluarga dan dokter juga mencari keberadaan Ngajiran ke RS Mina Aljirs pada 19 Oktober 2013.
"Katanya sudah dirujuk ke RS Mina Emergency. Tetapi ada petugas RS yang sampaikan kepada dokter, pasien dirujuk ke RS lain. Ternyata RS Mina Emergency itu sudah bubar, kan sifatnya darurat," papar Asep.
Menurut dia, keluarga dan dokter melaporkan ke petugas sektor dan Daker Makkah. Kemudian, diadakan pencarian oleh tim BPHI pada 20 hingga 21 Oktober 2013.
"Tim sanitasi dan surveilance sudah sweeping ke rumah sakit-rumah sakit dan tidak menemukan pasien Indonesia yang dirawat di sana. Kita juga terus berkomunikasi ke seluruh sektor," kata Asep.
Selain itu, lanjut dia, pencarian tetap akan terus dilakukan sampai pemulangan jamaah haji terakhir pada 11 November mendatang.
"Saya akan sweeping ke rumah sakit sampai hari pemulangan terakhir. Pencarian tetap terus dilakukan. Keluarga Ngajiran sepertinya sudah pasrah," kata Asep.
(aan/nwk)











































