Para remaja yang sudah mengenal teknologi sejak usia dini pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut. “Tidak mahal kok. Cuma keluar Rp 20 ribu setiap orang sudah bisa ngumpul. Nikmati chatting, facebook gratisan karena ada hotspot,” kata Pengamat sosial dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Syarif Hidayat kepada detikcom Kamis (17/10) kemarin.
Semestinta menurut dia, setiap pengelola gelanggang olahraga atau GOR di Jakarta harus bisa menyesuaikan perkembangan. Tidak ada salahnya menyediakan fasilitas hotspot gratis dan kafe yang nyaman dengan harga terjangkau.
Tak hanya GOR, dia juga menyarankan tempat umum lainnya seperti perpustakaan daerah juga menyediakan fasilitas hotspot gratis. Selama ini usai jam pelajaran, banyak anak sekolah nongkrong di mal atau jalanan.
Fenomena ini menurut dia bukan karena mahalnya tarif sewa GOR, melainkan akibat belum adanya keinginan para remaja di Jakarta untuk melakukan kegiatan yang positif.
Syarif menyarankan agar sejak usia dini seperti usia sekolah dasar, setiap anak ditanamkan perilaku positif untuk perkembangan hobinya di bidang olahraga. Sekolah dan orangtua pun secara bersama bisa mengarahkan hal ini.
Namun, sekarang cenderung terbalik karena anak-anak lebih sering menyukai permainan teknologi. Tidak heran menurut dia kalau anak-anak sekarang lebih memilih pergi ke mal dibandingkan ke GOR ataupun perpustakaan.
Setiap GOR yang ada pelajarnya bisa dihitung karena hanya di waktu tertentu saja mereka menggunakannya.
“Kalau enggak ada dorongan atau kemauan dari mereka ya percuma turunkan tarif. Lakukan orientasi jangka panjang dengan pengetahuan sejak dini di sekolah,” kata Syarif.
Wacana pemberlakuan jam malam untuk pelajar di Jakarta menurut Syarif sudah bagus karena mencegah para remaja melakukan aktivitas yang tidak bermanfaat. Tapi, upaya jangka pendek ini perlu dilakukan bersama dengan melibatkan sekolah dan orangtua. Misalnya, pihak sekolah memberikan tugas pekerjaan rumah yang akan mempengaruhi nilai mata pelajaran.
Sementara, orang tua harus terlibat dalam pengawasan anaknya dalam beraktivitas saat pulang sekolah dan malam hari.
Komunikasi antar sekolah di luar jam pelajaran perlu dijalin terus. Salah satunya dengan mengadakan lomba pertandingan basket atau futsal. Upaya ini untuk mencegah terjadinya hal yang tidak dinginkan seperti tawuran antar pelajar.
Menurut Syarif terlalu longgarnya upaya dialog serta komunikasi membuat tawuran masih sering terjadi. “Kalau sudah efekif atau belum ya sulit ngomong. Ya harus memaksimalkan dialog antar sekolah,” kata dia.
(erd/erd)











































