"Gelar Profesor Kehormatan diberikan kepada Duta Besar RI sebagai penghargaan atas sumbangsihnya dalam mempertahankan dan meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dan Tiongkok, khususnya dalam bidang pertukaran kebudayaan dan pendidikan," kata President ZUEL Wu Handong, seperti dalam rilis yang dikirimkan Kedutaan Besar RI Beijing, China, Senin (14/10/2013).
Wu Handong mengatakan, peningkatan hubungan ini tercermin dalam dukungan dan kehadiran Duta Besar RI dalam penandatanganan kerjasama beasiswa antara ‘House of Indonesia’ dan Zhongnan University. Melalui skema kerjasama ini, sekitar 64 orang mahasiswa berprestasi akan mendapatkan beasiswa yang mencapai nilai total Ren Min Bi (RMB/Yuan) 10 juta atau setara dengan Rp 18 miliar rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duta Besar Imron Cotan dalam pembacaan makalah ilmiahnya menyampaikan bahwa Indonesia dan China tengah memasuki babak baru hubungan bilateral kedua negara. Hal ini sejalan dengan ditandatanganinya Comprehensive Strategic Partnership RI-RRT pada tanggal 2 Oktober 2013, oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Xi Jinping di Jakarta, Indonesia.
"Kesepakatan ini tidak hanya memperkokoh berbagai kerjasama yang telah dibina selama ini di bidang politik, ekonomi dan sosial budaya, namun juga membuka berbagai peluang kerjasama baru yang dapat digali oleh kedua negara di forum regional maupun internasional," katanya.
Imron mencontohkan, seperti menghadapi krisis ekonomi yang berkepanjangan di Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang kian membebani ekonomi dunia dan mempengaruhi pertumbuhan Asia, Duta Besar RI menekankan pentingnya kerjasama Indonesia dan Cina dalam kerangka Asia-Pasific Economic (APEC) Forum.
"Indonesia, Tiongkok dan 19 negara anggota APEC lainnya perlu memastikan implementasi ‘Bali Package’ yang telah disepakati bersama, guna meningkatkan konektivitas APEC dan mendukung penggiatan intra-APEC trade. Konsep yang sederhana namun aplikatif tersebut diharapkan dapat menyehatkan kondisi perekonomian dan meningkatkan fair trade antar negara-negara kawasan Asia dan Pasifik tersebut, sebelum rejim perdagangan multilateral terwujudkan," katanya.
Imron mengingatkan, gejolak politik dan ancaman keamanan di negara-negara Timur Tengah dan sebagian negara Asia Tengah, krisis nuklir di Semenanjung Korea dan masalah kedaulatan di Laut China Selatan, hingga saat ini masih membayangi keamanan kawasan. Sebab itulah Indonesia dan China perlu selalu mendorong penyelesaian masalah dengan damai, salah satunya melalui penguatan mekanisme kerjasama ASEAN+1 (China).
"Melihat pentingnya kerjasama bilateral RI-Cina menghadapi isu-isu krusial di atas, Duta Besar RI ingin menggunakan kepercayaan yang diberikan oleh ZUEL sebagai media untuk meningkatkan komunikasi dan saling pemahaman antar masyarakat kedua negara, guna bersama-sama mencapai tujuan yang dimandatkan oleh Comprehensive Strategic Partnership RI-Cina," katanya .
Imron berharap kerjasama pendidikan antar kedua negara dalam bentuk beasiswa dapat semakin ditingkatkan, agar lebih banyak mahasiswa Indonesia belajar mengenai Tiongkok dan juga sebaliknya.
Menutup rangkaian acara, Professor Wu Handong juga berharap ZUEL dapat melakukan kerjasama pendidikan, misalnya dengan Universitas Gajah Mada di Yogyakarta.
Penganugerahan gelar Professor Kehormatan kepada Dubes RI Beijing sendiri dilakukan dalam rangkaian Dies Natalis ZUEL ke-65. Sejak didirikan pada tahun 1948, ZUEL telah memiliki lebih dari 200,000 alumni dan siswa, serta memberikan kontribusi yang besar terhadap pembangunan dan ekonomi Cina.
Acara penganugerahan ini digelar di Conference Hall, School of Bussiness and Administration, Wuhan. Acara dihadiri oleh lebih dari 350 orang yang terdiri dari anggota Dewan Guru Besar, civitas akademika, mahasiswa, dan juga para alumni ZUEL. Selain itu sekitar 50 mahasiswa asal Indonesia yang tengah belajar di berbagai universitas di Wuhan juga turut menghadirinya.
(nal/nwk)











































