Pendapatan Calo Tiket KA Turun
Senin, 08 Nov 2004 17:06 WIB
Jakarta - Perubahan sistem pembelian tiket KA secara online dan pengetatan keamanan plus sidak pejabat, ternyata berpengaruh juga terhadap pendapat para calo. Meski begitu, para calo ini tetap nekat beraksi di sekitar loket penjualan tiket. Calo-calo ini tetap berkeliaran di Stasiun Gambir, Jakarta Pusat, Senin (8/11/2004). Menurut seorang calo, Agus, dirinya menjadi calo tiket sudah lama. Hanya ini yang bisa dilakukannya untuk mempertahankan hidup. Menurut dia, biasanya dirinya mengambil untung Rp 30-50 ribu setiap tiket yang dijualnya. "Tapi, saya pernah mengambil untung seratus persen, tergantung situasi," kata dia. Namun, aku Agus, saat ini penjualan sangat seret. "Lebaran tahun lalu, saya bisa mendapatkan untung Rp 20 juta. Untuk tahun, sudah dapat untung Rp 2 juta juga sudah syukur," kata dia yang tampak menjual tiket secara sembunyi-sembunyi ini. Dia mengaku baru bisa menjual hanya beberapa tiket KA saja. Mengenai calo tiket KA ini, Kepala Humas PT KAI Daops I Ahmad Sujadi menyatakan, pihaknya sebenarnya sudah mengantisipasinya. "Kami membuat dua aturan, yaitu internal dan eksternal," kata dia. Untuk aturan internal, pertama, PT KAI tidak melayani tiket kepada calo. Kedua, petugas loket diharapkan tidak membawa handphone pada saat tugas, agar tidak bisa berhubungan dengan calo. Ketiga, memberikan sanksi yang tegas bagi petugas apabila ketahuan bekerja sama dengan calo. Sedangkan untuk aturan eksternalnya, pertama, penambahan bantuan tenaga keamanan. Kedua, memanggil gembong para calo. "Ini dimaksudkan untuk bekerja sama agar para calo tidak beroperasi pada lingkungan stasiun saat Lebaran," kata dia. Ketiga, menindak tegas para calo. Ketika ditanya sudah berapa calo yang ditangkap, menurut Sujadi, sulit untuk menangkap calo. Pasalnya, sangat sulit untuk membuktikan bahwa seorang itu adalah calo.
(asy/)











































