Sejumlah pengendara menggunakan sepeda motornya sebagai tempat duduk ataupun sandaran. Umumnya mereka berusia muda yang datang bersama pasangannya untuk memadu kasih. Namun ada juga yang mampir bersama rekan-rekannya untuk sekedar nongkrong.
Pemandangan di atas flyover Pasar Rebo itu sudah terjadi sejak lama. Jumlah pengendara yang memanfaatkan jembatan layang itu untuk berpacaran juga semakin banyak. Ibarat pepatah 'ada gula ada semut'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pengamatan detikcom, pada Sabtu akhir pekan lalu, ada sekitar 10 pedagang kaki lima seperti pedagang buah, minuman hingga makanan yang mangkal di flyover Pasar Rebo. Gerobak dagangan dihimpitkan dengan pembatas flyover agar terhindar dari kendaraan yang lewat.
Marnoto, 37 tahun salah satu pedagang kaki lima mengatakan dia berjualan di atas flyover Pasar Rebo mulai sore hingga pukul 01.00 dini hari. Menurut dia semakin malam jumlah pengunjung, baik yang sekadar 'nongkrong' ataupun pacaran kian bertambah banyak.
Bukan tanpa alasan jika pria yang berdagang minuman dan rokok ini memilih berjualan di atas flyover, karena omzet yang ia peroleh jauh lebih besar di banding berjualan di bawah flyover.
Dia menyebut jika berjualan di bawah flyover omzetnya hanya sekitar Rp 150.000. Sementara apabila di atas flyover omzetnya bisa mencapai Rp 300.000.
"Di bawah (flyover) sepi, dari jam 9 pagi sampe sore cuma 'dapet' Rp.150 ribu, di sini dari sore sampe malem saja bisa Rp 300 ribu-an," kata ayah dua anak ini kepada detikcom, Sabtu (24/8) lalu.
Yadi, 34 tahun, pedagang kaki lima lainnya menguatkan pernyataan Marnoto. Yadi yang berjualan minuman mengaku berdagang di atas flyover jauh lebih menguntungkan dibanding di bawah flyover.
"Kalau 'ngarepin' dagang di bawah, untuk balik modal aja sulit. (Pembeli) sepi karena kebanyakan cuma orang yang lagi nunggu angkot atau Metromini," kata dia.
Berdagang di atas flyover Pasar Rebo tentu tak tenang. Selain faktor keamanan akibat laju kendaraan, pedagang juga khawatir akan adanya razia penertiban oleh Satpol PP. Marnoto, Yadi bersama pedagang yang lainnya pun harus main 'kucing-kucingan' dengan petugas Satpol PP.
"Ya main 'kucing-kucingan', kalau kena razia, diangkut 'entar' di sana disidang, bayar uang adminidtrasi Rp10 ribu," kata pria asal Bumiayu, Jawa Tengah ini.
Beruntung tidak semua petugas Satpol PP melakukan penertiban dadakan. Ada sebagian petugas yang telah ia kenal masih memiliki simpati. Mereka sering mengingatkan pedagang jika akan ada razia. Salah satu kodenya adalah mobil operasional Satpol PP.
"Dia (Satpol PP) bilang, selagi saya ada di sini atau kamu masih lihat mobil saya, kamu jangan naik dulu, kasihan kan modalmu abis entar. Dia (Satpol PP) kasihan juga sama kami," kata pria yang telah 4 tahun menjadi pedagang kaki lima di flyover Pasar Rebo tersebut.
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Kukuh Hadi Santoso mengakui pihaknya kesulitan menertibkan flyover agar tak jadi tempat nongkrong dan pacaran. Salah satunya karena terkendala minimnya jumlah aparat.
Menurut Kukuh, pihaknya tidak mungkin menempatkan petugas Satpol PP di setiap titik. Sebab tugas Satpol PP tidak hanya menertibkan orang pacaran melainkan juga permasalahan minuman keras, pekerja seks komersial, pedagang kaki lima hingga bencana seperti kebakaran dan banjir.
"Tidak mungkin setiap titik kami taruh petugas Satpol PP. Tapi bukan berarti saya ini mau lepas tangan, cuci tangan,β kata Kukuh kepada detikcom. Wal hasil hingga kini sejumlah pedagang masih memanfaatkan 'jembatan cinta' di atas flyover Pasar Rebo untuk meraup rupiah.
(erd/erd)











































