5 Derita Petugas Portal TransJ, Dibogem hingga Diancam Pistol

5 Derita Petugas Portal TransJ, Dibogem hingga Diancam Pistol

Hestiana Dharmastuti - detikNews
Jumat, 02 Agu 2013 12:06 WIB
5 Derita Petugas Portal TransJ, Dibogem hingga Diancam Pistol
Jakarta - Petugas portal bus TransJakarta seringkali mendapat batu sandungan saat mensterilisasi busway. Mereka tidak luput menjadi korban penerobos arogan mulai dari dipukul, dicaci maki hingga diancam tembakan.

Sejatinya jalur TransJ harus steril dari kendaraan pribadi. Namun, penerobos tetap ngeyel dan memaksa masuk ke jalur khusus itu. Kala sang petugas menegakkan aturan, penerobos melawan dengan beragam cara.

Berikut kisah derita petugas TransJ dari dibogem hingga tembakan:

1. Pasrah Dipukul

Sial nasib Feri (28) petugas penjaga palang pintu jalur Trans Jakarta, sebab dia haus terima pukulan dari pengendara mobil mewah yang memaksa masuk jalur TransJ. Peristiwa ini terjadi di dekat halte Pejaten Philips, Warung Buncit, Jakarta Selatan.

"Mobilnya dari arah Mampang. Maksa masuk jalur tapi saya suruh keluar, dia enggak terima terus kami berantem saya dipukul. Kelihatan kan merah," kata Feri kepada detikcom sambil menunjukkan bekas pukulan di dagunya di lokasi, Kamis (1/8/2013).

Kejadian tersebut terjadi sore tadi sekitar pukul 16.30 WIB dan tidak berlangsung lama. Namun insiden ini sempat menarik perhatian para pengendara.

"Kejadiannya cepat paling cuma 1 menitan. Pengemudinya kayak orang Arab tapi bisa Bahasa Indonesia," ucap Feri.

Setelah dilerai oleh petugas yang lain akhirnya mobil Toyota warna hitam bernopol B 85 RKM itu batal masuk ke jalur TransJ dan mengambl jalur biasa.

Namun meski kena bogem, Feri mengaku tak akan mengadu ke polisi. "Ya nggaklah, kita orang kecil dia orang ada. Kita pasrah aja," kata Feri.

Dia berharap, pengemudi mobil itu sadar. Feri hanya petugas yang menjalankan tanggung jawab. "Semoga orang itu bisa ambil hikmahnya, saya ikhlasin aja dipukul," tutupnya.

2. Ditabrak

Bertarung dengan debu, asap kendaraan, dan panas matahari seolah tidak cukup bagi para petugas penjaga palang TransJakarta. Mereka masih harus beradu fisik dan mental dengan para pengendara yang nekat menerobos jalur yang seharusnya steril itu.

Feri bercerita tentang pekerjaan yang sudah digelutinya selama 3 tahun itu. Pekerjaan yang kerap menjebol dinding kesabaran pria berumur 28 itu.

Bertugas di dekat halte TransJ Pejaten Warung Buncit, Jakarta Selatan, Feri kerap berhadapan dengan situasi yang menegangkan. Feri pernah ditabrak sampai dipukul oleh pengendara arogan yang memaksa masuk jalur khusus TransJ itu.

Saat diminta untuk keluar jalur, pengemudi tersebut tidak mau. Feri sempat ditabrak, hingga akhirnya dia menggebrak kap mobil.

"Pengemudinya langsung keluar dan memukul saya. Teman-teman langsung misahin, ya kita juga nggak balas mukul. Teman orang itu juga marah-marah," kata Feri kepada detikcom, Kamis (1/8/2013).

"Manusia kan punya kesabaran. Kami ngomong baik-baik dia nggak mau keluar," tambahnya.

Selain itu Feri juga terkadang mendapat caci maki dari para pemotor yang memaksa dibukakan palang pintu. Untuk mencegah kendaraan roda dua ini Feri mengaku kewalahan sebab jumlahnya yang terkadang mencapai ribuan.

"Motor sering kita dimaki-maki, minta dibukain palangnya sampai keluar nama-nama binatang. Kadang tidak dikasih mereka mengomel, itu sering," ucap pria yang memiliki satu anak ini.


3. Disodori 'Kartu Sakti'

Petugas TransJ di kawasan Galur, Senen, Jakpus, akhirnya menyerah. Anak jenderal pengemudi Honda Jazz itu dibiarkan masuk melintas di jalur TransJ. Portal dibuka dan anak jenderal itu dibiarkan lewat.

"Ya mau bagaimana lagi, kita sudah berargumen. Mobil itu sudah mentok ke portal dan mobil TransJ sudah antre," jelas juru bicara TransJ Sri Ulina saat dikonfirmasi detikcom, Selasa (30/7/2013).

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 09.30 WIB. Sang pengemudi yang mengaku anak jenderal itu pria berusia muda seperti mahasiswa. "Dia juga menunjukkan kartu nama jenderal itu," jelas Uli.

Uli mengaku petugas tak bisa berbuat banyak. Bukan apa-apa, sosok jendera yang disebut dan kartu nama yang ditunjukkan anak muda itu membuat petugas yang berjaga keder.

"Kita terpaksa buka, kita biarkan lewat," tutupnya.

4. Dicaci Maki

Desi Arlisandi, seorang ibu membuka paksa portal busway yang ada di depan Penjara Cipinang, Jakarta Timur.

Foto aksi ini diposting kembali oleh akun twitter @BLUTransJakarta. Insiden ini terjadi pukul 10.30 WIB, Kamis (1/8/2013), di jalur bus TransJ koridor 11 (Pulogebang-Kampung Melayu). Seorang ibu berambut keriting dan mengenakan kemeja putih membuka portal yang ada di depan Penjara Cipinang, Jakarta Timur. Ibu bercelana panjang cokelat ini mendorong portal kuning yang terdapat tanda larangan masuk di atasnya.

Perempuan tersebut turun dari mobil dan membukakan portal itu agar mobil abu-abu yang ditumpanginya bisa melewati jalur tersebut. Aksi ini dilakukan meski Jalan Bekasi Timur Raya yang ada di depan penjara Cipinang tidak terlalu padat.

Perempuan berambut keriting memaki-maki petugas saat menerobos jalur bus TransJ di Cipinang, Jakarta Timur. Perempuan ini memaki petugas sambil mengeluarkan badannya dari jendela bagian belakang mobil yang ditumpanginya.

Foto aksi ini diposting kembali oleh akun twitter @BLUTransJakarta. Wanita itu menumpang mobil Suzuki abu-abu bernomor polisi B 1497 TZW. Sambil memaki petugas wanita ini mengeluarkan badannya dari jendela bagian belakang mobil. Saat memaki petugas banyak pengendara lain yang melambatkan kendaraannya untuk melihat aksi wanita itu.

"Orangnya memang cukup nekat," kata Humas BLU TransJ Sri Ulina Pinem kepada detikcom, Kamis (1/8/2013)

Dalam makiannya kepada petugas, wanita itu mengaku sebagai keluarga aparat. Dia kemudian turun dari mobil dan membuka portal busway yang ada di depan Penjara Cipinang, Jakarta Timur. Kemudian wanita berambut keriting ini masuk kembali ke dalam mobil dan masuk ke dalam jalur bus TransJ.

"Kita juga nggak tahu padahal jalur biasanya sepi tapi masih menerobos jalur bus TransJ juga," katanya.

Ulina mengatakan, petugas pengamanan bus TransJ memang tak memiliki wewenang untuk menindak penerobos jalur bus TransJ. "Kalau penindakan kita tak punya wewenang. Hal itu adalah kewenangan polisi," katanya.

Sementara itu, Desi berdalih harus berpacu dengan waktu lantaran suaminya membutuhkan perawatan akibat sakit jantung yang dideritanya.

"Pemilik kendaraan sedang sakit dan butuh perawatan mendadak ke rumah Sakit Ridwan Maurekso, Salemba," ungkap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada detikcom, Kamis (1/8/2013).


5. Polisi Lepas Tembakan ke Udara

Polisi yang mengawal mobil pengantar uang itu berinisial I dan D, membuang tembakan ke udara ketika Rocky, petugas bus TransJ menghadang mereka masuk ke jalur busway. Akibatnya, telinga Roky menjadi berdengung.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto mengatakan, ada dua oknum yang melepas tembakan di jalur busway Koridor IV (Pulogadung-Dukuh Atas) , Kamis 12 Januari 2012.

"Inisialnya I dan D, keduanya bintara," kata Rikwanto saat dihubungi wartawan, Minggu (15/1/2012).

Ia menjelaskan, I dan D, keduanya adalah anggota Pelayanan Masyarakat (Yanmas) Mabes Polri. Keduanya ditugaskan untuk mengawal mobil pengangkut uang. "Mereka kemudian ambil jalur busway karena mungkin di jalan arteri padat," katanya.

Namun, lanjutnya, sesampainya di jalur busway, tepatnya di depan Hotel Central, Jalan Pramuka, jalur tersebut ditutup petugas bus TransJ, Rocky. Rocky saat itu tidak memberi jalan untuk mobil pengangkut uang yang dikawal dua anggota kepolisian itu.

"Namun tidak dibuka, sehingga akhirnya si petugas (polisi) marah dan memaksa mobil masuk," katanya.

Kemudian, anggota tersebut melepaskan tembakan di dekat Rocky sebanyak satu kali. "Anggota melepaskan tembakan ke udara dan mungkin karena jarak terlalu dekat, sehingga petugas busway itu berdenging telinganya," jelasnya.

Namun, belum diketahui siapa di antara dua polisi yang melepaskan tembakan itu. "Belum tahu, ini yang masih kita selidiki," imbuhnya.

Menurut Rikwanto, apabila polisi terbukti bersalah maka akan dikenai sanksi disiplin.

Halaman 2 dari 6
(aan/mad)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini