Prostitusi, JP Coen dan Jokowi pun Kewalahan

Geliat Prostitusi di Bulan Suci

Prostitusi, JP Coen dan Jokowi pun Kewalahan

- detikNews
Jumat, 26 Jul 2013 17:15 WIB
Prostitusi, JP Coen dan Jokowi pun Kewalahan
Jakarta - Prostitusi tak pernah mati. Di Jakarta praktik menukar cinta dengan rupiahΒ terjadi sejak zaman Belanda. Sejumlah pemimpin di kota yang dulunya bernama Batavia ini sudah berusaha menghapus praktik prostitusi. Mulai masa Batavia dipimpin Jan Pieterzoon Coen, sampai saat gubernur dijabat Joko Widodo. Namun praktik penjaja cinta masih juga merajalela, termasuk di bulan Puasa saat ini.

Saat memimpin Batavia Jan Pieterzoon Coen menentang praktik prostitusi yang marak terjadi. J.P. Coen sendiri bahkan pernah menghukum putri angkatnya, Sarah, yang ketahuan 'bermesraan' dengan perwira VOC. Sarah dijatuhi hukuman diarak setengah telanjang, sementara sang perwira dihukum pancung.

Wali Kota Jakarta Sudiro pada tahun 1950, mengganti nama Gang Hauber, -sebuah lokalisasi prostitusi di kawasan Petojo di Jakarta Pusat-, menjadi Gang Sadar. Tujuannya untuk menghilangkan kesan kawasan mesum yang terlanjur menempel di daerah tersebut. Namun hingga tahun 1980 daerah ini tetap menjadi lokalisasi prostitusi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tahun 1960-an muncul lokalisasi prostitusi di Kaligot di Mangga Besar, dan juga di daerah Senen, Jakarta Pusat. Pada saat bersamaan muncul juga praktik prostitusi untuk kelas menengah ke bawah di sepanjang jalur rel kereta api stasiun Senen sampai kawasan Kota. Para wanita tuna susila bertarif murah ini melayani pria hidung belang di gubuk-gubuk kardus di sepanjang rel kereta. Bahkan gerbong-gerbong kerata kosong tengah parkir juga dijadikan tempat esek-esek.

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1970-an menggusur sejumlah tempat prostitusi di Ibu Kota, dan dipindahkan ke kawasan lokalisasi Kramat Tunggak, Jakarta Utara. Kebijakan Gubernur Ali menimbulkan kontroversi. Toh dia tak peduli. Menurut Bang Ali, lebih baik melokalisir wanita tuna susila di suatu tempat agar mudah dibina daripada mereka liar di jalanan tanpa pengawasan.

Sejarawan Chandrian Attahiyat mengatakan, kawasan Kramat Tunggak tidak muncul begitu saja. Sebelumnya di tempat ini juga sudah ada praktik prostitusi. β€œNamun skalanya masih kecil,” kata dia kepada detikcom akhir pekan lalu. Kemudian tahun 1980-an saat Gubernur DKI Jakarta dijabat Tjokro Pranolo, lokalisasi Kramat Tunggak berencana dipindahkan ke Kepulauan Seribu. Namun hingga gubernur berganti rencana ini tak pernah terwujud. Baru pada tahun 1999 lokalisasi di Kramat Tunggak dibubarkan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Kawasan ini diubah menjadi Islamic Center.

Setelah lokalisasi Kramat Tunggak dibubarkan, praktik prostitusi justru menyebar ke sejumlah sudut kota di Jakarta. Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Samsudi mengatakan persoalan pekerja seks komersial belum bisa dihilangkan dari kota-kota besar seperti ibu kota Jakarta. Hampir setiap tahun jumlah perempuan yang masuk ke prostitusi di Jakarta meningkat.

Kepala Seksi Rehabilitasi Tuna Sosial Dinas Sosial Provinsis DKI Jakarta Prayitno mengatakan pihaknya selalu berupaya melakukan penertiban para pekerja seks komersial di jalanan. Namun ia tak menampik masih banyak PSK yang tetap "berkeliaran" di beberapa wilayah Ibu kota meski bulan Ramadan.

"Memang PSK ini dari zaman dulu sampai kiamat pun masih ada, ini kan fenomena klasik. Sudah kami tertibkan, tapi tetap saja datang silih berganti," kata dia kepada detikcom. Praktik prostitusi tak pernah bisa mati.



(erd/erd)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads