53 Warga Pengikut Aliran Ikrar Sunnah Tobat Massal

53 Warga Pengikut Aliran Ikrar Sunnah Tobat Massal

- detikNews
Sabtu, 13 Jul 2013 17:42 WIB
Garut - 53 orang warga Kampung Legok Desa Sukarame, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut secara masal bertobat. Puluhan warga ini sebelumnya menjadi pengikut ajaran Ikrar Sunnah yang menghilangkan nama Muhammad pada saat azan dan melaksanakan shalat wajib lima waktu hanya sampai 2 rakaat.

Menurut Athim (18) warga setempat, sejak sepuluh tahun lalu dia dan warga lainnya melaksanakan shalat lima kali sehari dengan dua rakaat pada masing-masing waktu salat. Padahal Athim mengakui ajaran Islam yang benar ialah shalat maghrib 3 rakaat, isya 4 rakaat, subuh 2 rakaat, dzuhur 4 rakaat dan ashar 4 rakaat.

"Sejak kecil, saya sudah diajarkan shalat dua rakaat saja, sama seperti subuh. Memang kadang merasa malu atau terkucilkan oleh teman-teman sekolah karena shalatnya berbeda," ujar Athim pada wartawan di Garut, Jawa Barat, Sabtu (13/7/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pengikraran syahadat tersebut, puluhan warga yang terdiri dari perempuan, pria, dan anak-anak ini larut dalam suasana haru berurai air mata. Setelah kotbah singkat dari MUI Kabupaten Garut dan mengikraran syahadat, warga bersalaman bersama Muspika Leles, tokoh masyarakat setempat.

"Memang cukup sedih karena bertahun-tahun kami telah salah melaksanakan ibadah," ujar Athim penuh penyesalan.

Pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan pertemuan dengan para pengikut aliran Ikrar Sunnah di Garut. Usai berdialog, Ketua MUI Kabupaten Garut, KH. Agus Muhamad Soleh, menilai pemahaman mereka menyimpang karena salah menafsirkan isi Al Quran.

Usai mendapat penjelasan dari KH Agus, Aceng Solihin (65) yang menjadi pimpinan kelompok itu, bersama H Wara (60) dan Yahya (57) bersedia kembali ke jalan yang lurus. Ketiga tokoh ini sempat diamankan pihak kepolisian untuk menghindari aksi main hakim sendiri oleh warga.

"Kita buat jadwal setiap minggu. Kita kembalikan mereka pada ajaran sebenarnya sehingga akan shalat, azan, syahadat, dan puasa, seperti muslim pada umumnya. Hal itu juga dilakukan supaya mereka tidak dikucilkan di masyarakat," ujar KH Agus.

(vid/vid)


Berita Terkait