Bahkan kabar yang diterima detikcom, Kamis (6/6/2013) malam, anggota Densus 88 Antiteror sudah berada di Madura.
"Informasinya dipesan teroris di Surabaya, Sidoarjo dan Banyuwangi atau sekitaran Madura," kata seorang anggota kepolisian.
Namun informasi itu belum bisa dikonfirmasikan resmi ke pihak kepolisian.
Seperti diberitakan, tersangka kasus bom Lumajang itu diduga terobsesi dengan salah satu tersangka teroris yang saat ini menjadi buruan kepolisian, Upik Lawanga.
"Dari penggunaan sosial media yang bersangkutan menggunakan nama-nama itu," kata Karopenmas Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar, di Jakarta, Rabu (5/6/2013).
Kepolisian menduga Fungki terinspirasi dan menjadi simpatisan dari Upik Lawanga. "Itu baru kesimpulan sementara," kata Boy.
Penyidik dari tim Densus 88/Antiteror masih mendalami jatidiri Fungki. Dia merupakan karyawan di loket agen perjalanan PT Arifin Sidayu, Lumajang. Bom yang dirakit Fungki meledak di kantor tersebut.
Kepada polisi Fungki mengaku bom yang dibuatnya tersebut adalah untuk menangkap ikan. Namun, penyidik tidak percaya begitu saja karena adanya kejanggalan dari beberapa serpihan yang ada di lokasi kejadian, gotri dan paku.
Belakangan, hasil penyelidikan polisi menemukan adanya transaksi elektronik (percakapan) di jejaring sosial tersangka dengan beberapa orang. Salah satunya adalah rencana aksi teror ledakan bom.
Polisi juga telusuri beberapa nama yang disebutkan Fungki yang memesan 10 bom rakitannya untuk sejumlah sasaran teror.
(gik/ega)











































