Saksi Bisu 199 Korban Bom Bali
Selasa, 12 Okt 2004 07:16 WIB
Jakarta - Sebuah monumen berdiri tegak di ground zero atau titik ledakan bom Bali, dan menjadi saksi bisu terenggutnya 199 jiwa manusia.Jajaran 199 nama korban tewas bom Bali terpahat pada monumen yang diberi nama Monumen Tragedi Kemanusiaan Peledakan Bom 12 Oktober 2002 itu.Dua tahun yang lalu, jeritan minta tolong, teriak kesakitan, dan erangan meregang nyawa terdengar dari ground zero yang terletak di antara Sari Club dan Paddy's Pub jalan Legian Kuta Bali.Hari ini, Senin (12/10/2004), dua tahun berselang dari peristiwa yang sempat membuat gentar insan dunia akan kedamaian, berbagai orang dari belahan dunia akan menundukkan kepala mengenangnya.Pulau Dewata yang menjadi barometer damainya dunia menjadi saksi berkumpulnya insan dari 22 negara yang terampas hak hidupnya dengan sebuah aksi teroris. Kini, Pulau Dewata pula yang menjadi saksi berkumpulnya kembali insan dari 22 negara yang berusaha bangkit dari kenangan buruk untuk menggapai perdamaian.Antara lain Australia 88 orang, Indonesia 38 orang, Inggris 23 orang, AS 7 orang, Jerman 6 orang, Swedia 5 orang, Belanda dan Prancis masing-masing 4 orang. Kemudian Swis dan Denmark masing-masing 3 orang.Lalu Brazil, Kanada, Afrika Selatan, Jepang, Korea, dan Selandia Baru masing-masing 2 orang. Selanjutnya Italia, Portugis, Polandia, Yunani, Ekuador, dan Taiwan masing-masing 1 orang.Sebanyak 199 nama korban tewas dipahat pada Monumen Bom Bali. Sedangkan 2 nama lagi yang diyakini sebagai pelaku bom bunuh diri tidak ikut dipahat. Monumen diarsiteki oleh Ir Gomudha. Peresmian monumen akan dilakukan Bupati Badung Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi.Sekretaris Tim Penataan Kawasan Peledakan Bom Bali I Wayan Suambara menjelaskan, monumen didirikan bukan untuk memperingati bom Bali, tapi dibangun untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan, terutama para korban.Menurut Ir Gomudha, bangunan fisik monumen menghabiskan dana sekitar Rp 1,1 miliar. Sedangkan untuk pembelian tanah seharga Rp 835 juta.Fisik bangunan monumen berbentuk lonjong, disebut kayonan sebagai simbol gunung yang melambangkan alam semesta sebagai perjalanan ruang dan waktu.Monumen terletak di atas tanah seluas 1,37 are dengan tinggi dan lebar 15x15 meter. Monumen dibagi dalam 3 ruang yakni jaba (luar), jaba tengah (tengah), dan jeroan (utama).Jaba berupa halaman monumen. Pada jaba tengah terdapat beberapa bangunan. Antara lain trikona sebagai lambang siklus kehidupan, altar yang terbuat dari batu granit sebagai tempat pemujaan, kolam renang dalam bentuk belanga sebagai simbol Kuta yang dimaksud sebagai roh Bali dalam dunia pariwisata.Di dalam kolam renang terdapat 9 air mancur yang melambangkan arah mata angin sebagai simbol perdamaian. Diharapkan kedamaian datang dari segala penjuru.Pada bagian jeroan terdapat kayonan yang terbuat dari batu borneo dari Kalimantan. Backgorund kayonan terbuat dari batu himalaya dari India. Di bawah kayonan terdapat prasasti, dipahat 199 nama korban tewas bom Bali.Di bawah prasasti juga terdapat altar yang berfungsi sebagai tempat menaruh karangan bunga dan sesajen. Pada sisi kanan dan kiri altar terdapat 22 tiang bendera negara asal para korban tewas bom Bali.
(sss/)











































