Pemilu di Afganistan Berakhir dengan Kontroversi
Minggu, 10 Okt 2004 01:46 WIB
Jakarta - Hari ini pemilihan Presiden langsung pertama di Afganistan berakhir. Pemilihan presiden berakhir penuh kontroversi setelah sebagian besar calon presiden memboikot pemilihan. Namun Presiden Afganistan yang juga ikut bertarung dalam pemilihan presiden kali ini menyatakan pemilihan sudah berlangsung secara fair dan tanpa penekanan. Memang pemililihan berlangsung tanpa ada gangguan keamanan yang berarti. Tapi pemilu bersejarah Afghanistan dinodai dengan buruknya kualitas tinta. Tinta tersebut dapat dengan mudah dihapus sehingga memungkinkan beberapa pemilih di negeri bekas rezim Taliban itu mencoblos lebih dari satu kali. 15 calon presiden pesaing presiden Hamid Karzai mengatakan menarik diri dari pemilihan karena sistem pemilihan presiden tidak sanggup mengantisipasi pemilih ganda. Seorang kandidat presiden, Abdul Satar Sirat mengatakan pemilihan presiden hari ini bukan pemilihan yang legitimate. "Pemilihan harus dihentikan dan kami tidak percaya hasilnya," tegas Abdul. Terlepas dari pertentangan mengenai jalannya pemilihan, rakyat Afghanistan tampak antusias memberikan hak suaranya sejak Sabtu (9/10/200) pukul 07.00 waktu setempat. "Siapa yang lebih penting, kelima belas kandidat atau jutaan masyarakat yang telah memberikan hak suara mereka?" ujar Karzai yang telah menjadi pemempin pemerintahan seusaqi jatuhnya Taliban tiga tahun lalu. Pejabat senior PBB yang mengawasi jalannya pemilihan mengatakan pemilihan akan dilanjutkan. Dari data pemilihan presiden di Afghanistan, tercatat lebih dari 10,5 juta pemilih mendaftarkan diri. 41,3% pemilih adalah perempuan. Pemilihan berlangsung di sekitar 25 ribu tempat pemberian suara di 5.000 lokasi di seluruh Afghanistan.
(dni/)











































