Tak Ada Bukti Senjata Pemusnah, Bush Bersikeras Soal Irak
Kamis, 07 Okt 2004 17:44 WIB
Jakarta - Presiden AS George W Bush bersikeras bahwa serangan ke Irak merupakan hal yang benar untuk dilakukan, meskipun inspektor senjata terkemuka Gedung Putih menyatakan bahwa tidak ada bukti Irak memproduksi senjata pemusnah massal setelah Perang Teluk 1991.Padahal dalih senjata itulah yang dijadikan justifikasi invasi AS ke Irak untuk menggulingkan rezim Saddam Hussein. Charles Duelfer, penasihat khusus CIA yang memimpin operasi pencarian senjata pemusnah massal Irak, mengatakan pada komite Senat AS bahwa dirinya tidak menemukan bukti apapun mengenai keberadaan senjata tersebut.Dalam laporan setebal 1.000 halaman itu dituliskan bahwa Saddam punya keinginan namun tidak memiliki alat-alat untuk memproduksi senjata biologi, kimia dan nuklir. Dikatakan bahwa kemampuan Saddam memproduksi senjata seperti itu telah dilemahkan dengan adanya sanksi PBB sekian tahun.Namun meski muncul temuan ini, Bush tetap tidak bergeming. Hanya beberapa jam setelah laporan tersebut dirilis, Bush berbicara di depan para pendukungnya di Pennsylvania. Ia tetap membela keputusan pemerintahannya untuk menyerang Irak."Ada risiko, risiko nyata, bahwa Saddam Hussein akan menyerahkan senjata atau materi-materi atau informasi ke jaringan teroris," ujar Bush seperti dilansir AFP, Kamis (7/10/2004). "Di dunia setelah 11 September, itu risiko yang tidak bisa kita terima," imbuhnya.Kandidat presiden partai Demokrat, Senator John Kerry, hampir dipastikan akan memanfaatkan temuan tersebut sebagai senjata dalam debat kepresidenan melawan rivalnya, Bush, Jumat (8/10/2004) besok. Sesi debat besok merupakan ajang perdebatan yang kedua antara Bush dan Kerry menjelang pemilihan presiden 2 November mendatang. Kedua kandidat presiden AS itu akan kembali beradu mulut dalam sesi debat ketiga yang juga akan digelar bulan Oktober ini.
(ita/)











































