Menlu Yakini 2 Sandera di Irak, Novita dan Istiqomah
Senin, 04 Okt 2004 14:56 WIB
Jakarta - Meski masih diperlukan konfirmasi lebih lanjut, namun Menlu Hassan Wirajuda meyakini bahwa dua perempuan WNI yang disandera di Irak bernama Istiqomah dan Novitasari. Setidaknya itu informasi yang terakhir yang didapat Deplu. Hal ini disampaikan Menlu kepada wartawan di Istana Merdeka, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Senin (4/10/2004). "Hari ini kami baru memperoleh informasi bahwa dua WNI yan disandera, ternyata berbeda dengan yang diumumkan selama ini," kata Menlu. Semula dua sandera itu disebut-sebut bernama Rosidah binti Anom dan Rafika binti Aming, yang tinggal di Sukabumi dan Cianjur. "Ternyata setelah diteliti Deplu, nama dan alamat itu tidak benar. Kemudian di Serang, ada keluarga yang memiliki anak yang sama, ternyata juga tidak," ungkapnya. Akhirnya, ada informasi yang cukup valid, bahwa dua perempuan yang disandera itu bernama Istiqomah binti Misnad dan Novitasari binti Sugito. Informasi terakhir, yang semula bernama Rosidah binti Anom, ternyata Istiqomah binti Misnad. Sedangkan yang semula Rafika binti Aming ternyata bernama Novitasari binti Sugito," kata Menlu. Istiqomah berlamat di Jl. Kinibalu, RT 003, RW 01, Tanjung Kelo, Banyuwangi. Istiqomah dikirim oleh PT Sabrina ke Yordania tanggal 17 september 2003. Sedangkan Novitasari berlamatkan di dusun Lokasari RT 23, RW 08, Desa Haryokuncaran, Kecamatan Sumbermanding Wetan, Malang Selatan, Jawa Timur. Novita dikirim PT Assami Ananda Mandiri. Menlu mengakui, pihaknya kesulitan dalam mengungkap identitas dua sandera itu sejak awal. "Dari fakta dan identitas, ini memang ada kesulitan sejak awal untuk melakukan identifikasi. Karena, informasi yang berdasarkan paspor dan PJTKI, tidak jelas," ungkapnya.
(asy/)











































