Tersangka Baru Bom Kedubes
I Pamitan untuk Mati Syahid
Jumat, 24 Sep 2004 16:26 WIB
Jakarta - Mabes Polri menetapkan seseorang lagi dengan inisial I sebagai tersangka kelima bom di depan Kedubes Australia. I alias A alias Ag diketahui berpamitan kepada istrinya untuk mati syahid. Demikian disampaikan Kabreskrim Mabes Polri Komjen Pol Suyitno Landung saat dicegat wartawan di Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta, Jumat (24/9/2004). Keterlibatan I terungkap dari hasil penelusuran bahan peledak dan mobil yang digunakan untuk pemboman. I yang kini sudah ditangkap melakukan pertemuan dengan R yang bertugas merekrut pelaku bom bunuh diri. R bersama A dan N yang diduga sebagai tokoh utama pemboman hingga kini masih buron. Setelah pertemuan dengan R, I menitipkan surat untuk istrinya yang isinya pamitan untuk mati syahid. "Surat itu sekarang sudah kita sita," kata Suyitno.Polisi belum bisa memastikan berapa pelaku bom di depan Kedubes Australia. Hasan dan Jabir yang semula diduga kuat sebagai pelaku bom bunuh diri di depan Kedubes itu dipastikan tidak ikut tewas. DNA orang tua Hasan dan Jabir tak ada yang cocok dengan serpihan tubuh yang hingga kini masih diperiksa di RS Polri Kramatjati. Kini polisi masih mencocokan serpihan tubuh itu dengan DNA dua keluarga dari Jawa Barat dan satu keluarga dari Jawa Barat. "Karena yang dua sudah positif bukan, yang J dan H itu, maka kita fokuskan pemeriksaan DNA pada sampel susulan. Satu dari Jawa Timur dan dua dari Jawa Barat," kata Suyitno.Berdasarkan penelusuran bahan peledak dan mobil yang digunakan pemboman, polisi telah menangkap dan memeriksa 14 orang. Dari jumlah itu, polisi menetapkan 2 tersangka yakni I dan AAH. Sisanya masih dilakukan pendalaman untuk kemudian dibebaskan atau tetap ditahan. Selain I dan AAH, polisi sebelumnya telah menetapkan 3 tersangka lainnya yang ditangkap sebelum pemboman Kedubes yakni UB, IS dan DN. Sementara itu polisi masih menyelidiki keterlibatan sebuah perusahaan ekspesidi dengan inisial SA. Perusahaan itu diketahui menyiapkan fasilitas kendaraan untuk mengangkut bahan-bahan peledak. Perusahaan yang berpusat di Jakarta itu dimiliki 3 pemegang saham. Polisi kini menelusuri sumber dana ledakan dari kepemilikan perusahaan dan operasionalisasinya.
(iy/)











































