Menjamurnya pengemis dan anak jalanan merupakan salah satu potret kemiskinan di Ibukota. Sayangnya, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) mengaku belum memiliki terobosan untuk mengatasinya.
"Ya kalau yang linear seperti itu yang kita lihat setiap tahun ya seperti itu terus. Tapi saya belum punya sebuah langkah terobosan apa, belum. Ngaku saja saya belum punya," kata Jokowi di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (4/1/2013).
Jokowi mengakui pengemis dan anak jalanan adalah representasi kemiskinan. "Ya itu potret kemiskinan, kita harus kita akui. Ngaku kan paling enak," ujar Jokowi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
memastikan tidak ada lagi razia terhadap anak jalanan. Ahok akan memfungsikan RT dan RW untuk mengatasi persoalan ini.
"Jangan ada razia tangkap kayak gitu. Saya nggak mau ada lagi operasi-operasi tangkap tangan seperti itu. Nanti anak-anak malah pada kecelakaan. Pendekatan saja nanti ketahuan kok, nanti kita fungsikan RT-RW lebih baik," ujar Ahok.
Jumlah anak jalanan di Jakarta menurut Dinas Sosial DKI Jakarta terus meningkat.Pada tahun 2009 berjumlah 3.724 orang, tahun 2010 melonjak menjadi 5.650 orang, tahun 2011 bertambah menjadi 7.315 orang. Anak jalanan ini mengais rezeki sebagai pengemis, pengamen, pengelap kaca mobil, pedagang asongan, joki 3 in 1, dan tukang parkir liar.
(aan/nrl)
