Netanyahu Ancam Bakal Operasi Militer Besar-besaran di Tepi Barat

Netanyahu Ancam Bakal Operasi Militer Besar-besaran di Tepi Barat

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2026 00:09 WIB
Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu arrives for a press conference in Jerusalem on March 19, 2026. Netanyahu said on March 19 that Israel and the US were winning the war against Iran, with the Islamic republic decimated and unable to enrich uranium or manufacture ballistic missiles. He insisted Israel had acted alone in striking Irans massive South Pars gas field, while confirming that the US president had asked Israeli forces to hold off on such attacks moving forward. (Photo by Ronen Zvulun / POOL / AFP) /
PM Israel Benjamin Netanyahu. (AFP/RONEN ZVULUN)
Jakarta -

Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan akan adanya operasi militer skala besar dalam waktu dekat di Tepi Barat dan berjanji untuk memindahkan sebagian penduduk Hebron. Ancaman ini menyusul serangan oleh pria Palestina bersenjata yang menewaskan dua tentara.

Dilansir AFP, Jumat (23/10/2026), serangan tersebut terjadi di sebuah pos pemeriksaan dekat kota Palestina di wilayah selatan Tepi Barat yang diduduki, juga menyebabkan tiga tentara terluka. Peristiwa ini terjadi beberapa hari menjelang pemilihan umum di Israel, di mana Netanyahu menghadapi persaingan yang ketat.

Dua pria bersenjata yang melancarkan serangan itu tewas dalam baku tembak dengan tentara. Dalam kunjungannya ke Hebron setelah serangan tersebut, Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel akan memasuki lingkungan tempat tinggal para pelaku dan memindahkan penduduknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami akan mengevakuasi penduduk, kami akan menyisir dari rumah ke rumah, kami juga akan menyita senjata-senjata yang ada di sana, serta menangani dan menghancurkan seluruh infrastruktur teroris," ujar Netanyahu, sebagaimana disampaikan oleh kantornya.

ADVERTISEMENT

"Menteri Pertahanan dan saya sedang mempertimbangkan operasi militer IDF (tentara Israel) yang sangat luas di Yudea dan Samaria-skala yang belum pernah dilakukan sejak Perang Enam Hari," tambah Netanyahu, merujuk pada perang Arab-Israel tahun 1967.

"IDF siap melaksanakannya dan kami akan menentukan waktunya, tetapi operasi ini pasti akan dilakukan," tambahnya.

Netanyahu mengatakan militer akan menerapkan model yang sebelumnya digunakan di kamp-kamp pengungsi di wilayah utara Tepi Barat. Menurut kantor hak asasi manusia PBB, operasi militer skala besar yang dijuluki 'Tembok Besi' (Iron Wall) yang diluncurkan pada Januari 2025 telah memaksa puluhan ribu orang untuk pindah dari sejumlah kamp pengungsi.

Hingga Juli tahun ini, menurut PBB, sebanyak 33.362 pengungsi Palestina yang terusir dari ketiga kamp tersebut belum diizinkan untuk kembali.

Hampir dua tahun berselang, militer Israel masih terus berada di kamp pengungsi Jenin, sebuah lokasi yang sebelum operasi Iron Wall, merupakan basis bagi kelompok militan bersenjata Palestina yang melawan pendudukan Israel.

Militer Israel juga masih bercokol di dua kamp pengungsi di kota Tulkarem yang terletak tidak jauh dari sana. Di ketiga kamp tersebut, militer menghancurkan puluhan rumah yang terletak di kawasan padat dengan lorong-lorong yang saling terhubung, guna mempermudah akses bagi pasukan dan kendaraan lapis baja mereka. Selain itu, militer juga mendirikan pusat operasional bagi pasukannya di dalam rumah-rumah penduduk.

"Model kamp pengungsi Jenin kini akan diterapkan di Hebron," ujar Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, melalui platform X.

"Setiap lingkungan berbasis klan di Hebron-tempat asal para teroris yang beraksi hari ini-akan dikosongkan dari penduduknya. Infrastruktur teror di lingkungan tersebut akan ditangani dan dibongkar," katanya, merujuk pada keluarga-keluarga besar, atau klan, yang memiliki pengaruh kuat di kota Hebron.

Halaman 2 dari 2
(rfs/idn)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini