RI di Tangan SBY Prospektif
Kamis, 23 Sep 2004 17:05 WIB
Den Haag - Masa depan RI di bawah pimpinan SBY lebih prospektif dan memantik harapan baru. Seandainya Megawati yang menang, Indonesia akan stagnan.Hal itu dikemukakan Zulheri (Herry), SH, Mhum kepada detikcom hari ini, Kamis (23/9/2004). Dosen Universitas Andalas (Unand), Sumbar, tersebut saat ini sedang menempuh program S3 bidang hukum di Erasmus University, Rotterdam.Herry mengatakan, kepribadian SBY menjadi modal dasar dia sebagai pemimpin. "Disiplin militer yang tertanam dalam dirinya, dalam pengertian positif, akan muncul suatu ketika, meskipun ia sudah menjadi purnawairawan. Dan masyarakat ternyata juga menilai kepribadian SBY lebih baik dibandingkan Mega, seperti terungkap dari hasil jajak pendapat," kata Herry.Menurut Herry, sekiranya presiden terpilih adalah Megawati, kemungkinan masa depan Indonesia akan stagnan atau tidak banyak kemajuan. Alasannya karena Megawati telah terbukti kurang mampu mengambil kebijakan secara cepat dan tegas. "Misalnya seperti kasus Jaksa Agung MA Rahman yang terindikasi menerima suap. Selaku Presiden, Mega berhak memberhentikan Rahman dan menggantinya dengan Jaksa Agung baru. Tapi kasusnya sampai kini tidak diteruskan," ungkap Herry.Selain itu, lanjut Herry, selama kepemimpinan Megawati masyarakat mencatat kasus-kasus KKN terus merajalela, meskipun kedengarannya secara kuantitatif kasus demi kasus diadili, tetapi secara kualitatif makin meningkat. "Mungkin kita semua bisa menyimpulkan bahwa Megawati terbukti tidak mampu memberantas KKN," ujarnya. Herry yakin, di tangan SBY akan muncul keadaan yang lebih baik. Menurut dia, relasisasi perubahan ekonomi, sosial, dan politik akan menjadi semakin tegas, apalagi dengan adanya dukungan PBB dan terutama orang-orang PKS yang dikenal bersih dan komit. "Kita mungkin akan melihat perubahan ekonomi yang signifikan dengan kredibilitas dan kerja keras kabinet yang tersusun. Masalah korupsi yang sudah menjalar ke mana-mana akan teredam akibat keteladanan sikap SBY yang tidak koruptif," kata Herry.Keberhasilan menurunkan tingkat korupsi ini, didukung program pemerintah yang baik, akan berimplikasi positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Seterusnya, kata urang awak ini, sebagai multiplier effect-nya pertumbuhan ekonomi akan meningkat. Apalagi sosok SBY jelas bisa diterima negara luar seperti Amerika Serikat (AS) dan negara besar lainnya seperti Jepang. "Dengan menggunakan sudut pandang area specialists, saya menilai bahwa perpaduan model kepemimpinan kemiliteran digandeng dengan sipil lebih cocok untuk Indonesia saat ini, yang sedang mengalami berbagai masalah, konflik vertikal dan horizontal," tandasnya.Meskipun demikian, jika sistem administrasi atau pemerintahan tetap seperti sekarang, Herry mengkhawatirkan pemerintahan SBY tetap akan digerogoti birokrat korup. Karena itu, dia menyarankan agar SBY mulai merintis dan mengembangkan E-Government, dengan menyediakan segala bentuk pelayanan publik secara online."Dengan penerapan E-Government, masyarakat tidak lagi berhadapan dengan pegawai pemerintahan yang bermental korup. E-Government ini akan membantu mewujudkan pemerintahan yang lebih efisien, transparan, interaktif, dan terbuka, serta dipercaya. Semua bentuk pelayanan juga akan cepat, mudah dan sederhana," demikian Herry.
(es/)











































