"Sebelum hujan datang, kali Cideng sudah dikosongkan (dikurangi volume airnya), kemarin begitu saya cek sebelum hujan sudah diturunkan (volume air) di Kali Cideng. Kemarin skala ketinggian itu sampai puncaknya di Cideng 200 mm, sebelum hujan sudah diturunkan sampai 20 mm," kata Kadis PU DKI Jakarta, Ery Basworo. saat dihubungi detikcom, Minggu (23/12/2012).
"Pompa jalan semua, tapi begitu hujan besar datang nggak ngejar. Tapi akhirnya karena pompa itu lebih besar kemampuan menarik airnya, maka banjir itu bisa turun dalam tempo singkat," lanjutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kali Cideng itu berfungsi sebagai folder atau penampung (sebelum ke BKT). Dulu pompa di Kali Cideng hanya pompa besar dari pemerintah pusat yang mampu mengangkat sekitar 7 kubik, baru bekerja sampai ketinggian 80 mm lebih. Sekarang Pemda DKI tambah 20 pompa yang memang tidak begitu besar," ungkapnya.
"Kemarin saat hujan besar, total ada 8 pompa yang dipasang dengan kekuatan 2 kubik termasuk pompa gajah yang dipasang. 8 pompa itu 4 pompa yang dari pemerintah pusat dan 4 lagi dari Pemprov DKI. Kemarin menyala semua tapi nggak ngejar hujannya," imbuh Ery.
Ia menuturkan, selain di kali Cideng pompa juga juga disediakan di beberapa titik seperti kali Gresik di Menteng yang saluran airnya dibawa ke Waduk Melati lalu ke Banjir Kanal Barat. Kemudian di gedung Jaya, gedung Surya, dan gedung Mapalus.
"Ada 23 pompa, pompa gedung Jaya, gedung Surya, gedung Mapalus. Itu sudah ditarik semua airnya masuk ke kali Cideng. Nah, memang kali cidengnya penuh dan hujannya terus nggak ngejar," ucap Ery.
(bal/mad)










































