DetikNews
Rabu 28 November 2012, 17:14 WIB

Profesor X-Ray dan Sel Punca Dianugerahi Habibie Award

- detikNews
Profesor X-Ray dan Sel Punca Dianugerahi Habibie Award Penerima Habibie Award
Jakarta - The Habibie Center menganugerahkan penghargaan Habibie Award kepada dua ilmuwan Indonesia atas prestasinya. Dua ilmuwan itu adalah Profesor Effendy dan Profesor Dr Teguh Santoso Sukamto.

Penghargaan diberikan dalam sebuah acara di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta, Rabu (28\/11\/2012). Penghargaan ini merupakan periode ke 14 pada tahun 2012. Keduanya menerima piagam, medali, dan uang masing-masing sebesar US$ 25.000.

Prof Effendy MPd adalah penerima penghargaan di bidang Ilmu Dasar Kimia. Pria kelahiran 1956 ini adalah dosen FMIPA Universitas Negeri Malang. Effendy adalah peneliti alat X-Ray untuk struktur molekul.

\\\"Saya berkeinginan alat X-Ray Defragtometer ini tidak hanya untuk molekul kecil, tapi juga untuk molekul-molekul besar atau makro. Displin struktur molekul ini, tidak hanya untuk kepentingan publikasi, namun dengan memahami struktur molekul, kita bisa meramalkan sifat-sifat molekul seperti apa, dan ini bisa meramalkan penyakit tertentu yang berkaitan dengannya,\\\" papar Effendy dalam sambutannya.

Sejumlah prestasi yang telah diraih antara lain Effendy adalah satu-satunya ilmuwan Indonesia yang dimasukkan dalam \\\"CSD Author Statistics\\\" dalam \\\"Cambridge Crystallographic Data Centre\\\" yang berisi nama-nama peneliti yang berhasil mempublikasikan minimal 50 struktur senyawa baru dalam jurnal-jurnal internasional.

Namanya dimasukkan dalam \\\"International Directory of Distinguished Leadership,\\\" American Biographical Institute, Inc USA (2001). Juga termasuk \\\"2000 outstanding intellectual of the 21st century\\\" International Biographical Centre, Cambridge, UK (2008). Ia juga memperoleh \\\"Gold Medal for Indonesia\\\" dari American Biographical Institute, USA (2006).

Sementara itu Prof Dr Teguh Santoso Sukamto adalah penerima penghargaan Bidang Keilmuan Ilmu Kedokteran. Dia adalah dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Teguh adalah peneliti yang mengembangkan sel punca.

\\\"Penderita penyakit jantung sering datang dalam kondisi sudah terjadi kerusakan irreverseble atau berada amat lanjut sehingga sulit diatasi walaupun dengan terapi obat-obatan atau juga tindakan operasi dan pemasangan stent. Salah satu kondisi ini adalah gagal jantung. Alternatif pengobatannya yaitu sel punca. Terapi ini tujuannya memperbaiki dan meregenerasi jaringan. Dengan demikian bukannya mengganti jantung yang rusak dengan jantung lain, tetapi diciptakan otot jantung baru, yang sehat, di jantung yang sudah sakit tersebut,\\\" papar Teguh dalam sambutannya.

Sejumlah prestasi yang telah diraih Teguh antara lain menjadi pakar terapi sel punca untuk pengobatan penyakit jantung. Melalui penggunaan sel punca (stem cell), otot jantung yang rusak atau mati dapat diperbaiki kembali. Dia mempelajari terapi sel punca dari pakar dari Texas Heart Institute, Prof Emerson Perin.

Teguh menjadi dokter Asia pertama yang mendapat pengakuan dari Texas Heart Institute untuk melakukan terapi penyuntikan sel punca langsung ke otot jantung melalui proses pemetaan.

Tahun 2012, pertama di Indonesia, Teguh melakukan pemasangan alat LAA Occluder untuk pencegahan stroke pada pasien.





(mpr/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed