Faisal Basri:
Slogan SBY Oportunistik
Jumat, 17 Sep 2004 12:39 WIB
Jakarta - Pengamat ekonomi Faisal Basri menilai slogan perubahan yang diusung Capres SBY jauh dari realitas dan sekadar lamunan. Masyarakat diimbau jangan terbuai slogan capres."Slogan perubahan tersebut akan sangat berbahaya karena realitasnya tidak jelas dan resikonya besar. Hanya merupakan sikap oportunistik yang tidak didukung oleh tim work serta proses atau konsep yang jelas," kata Faisal Basri dalam jumpa pers tentang Hentikan Ilusi Slogan Perubahan di Hotel Cemara, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Jumat (17/9/2004).Faisal menerangkan slogan perubahan tidak lain merupakan pergantian rezim saja. "Justru slogan perubahan itu malah menunjukkan anti perubahan alias jadi antagonistik dan sekadar fatamorgana saja," ujarnya.Budiman Sujatmiko, mantan Ketua Umum PRD menambahkan slogan perubahan hanya sebagai ilusi atau sekadar lamunan. "Slogan, seperti 'Perubahan Semakin Dekat' dan 'Perubahan Akan Dimulai', menujukkan seolah-olah sejak 6 tahun jatuhnya rezim Soeharto atau dimulainya reformasi tidak ada perubahan apa-apa tetapi baru dimulai pasca 20 September dan dimanfaatkan capres tertentu. Itu persepsi yang salah. Yang benar, perubahan sudah dimulai tetapi belum stabil dan belum mencapai target maksimal," paparnyaSelain mengkritik slogan SBY, Faisal juga mengkritik slogan Megawati yang berbunyi 'Sudah Teruji dan Terbukti'. "Memang sudah terbukti tetapi terbukti korupsi merajalela dan teruji dengan penjualan BUMN dan aset negara. Hanya mengandalkan masa lalu. Tetapi, kita harus akui tiga tahun pemerintahan Mega lebih baik daripada sebelumnya, meskipun demikian dibanding negara lain kita sangat terlambat.Contohnya, lanjut Faisal, Jaksa Agung merupakan titik kelemahan pemerintahan Megawati selama ini. "Tidak ada efektivitas pemerintahan Mega yang menyebabkan tidak berjalannya program pemerintahan Mega selama 3 tahun ini," tandasnya. Meskipun mengkritik dua capres, kelompok yang mengatasnamakan Blok Demokrasi tidak menyarankan golput. "Memilihlah, tetapi jangan pilih karena terbuai slogan melainkan karena kritis. Kami tidak merekomendasikan golput, tetapi jangan berharap berlebihan supaya tidak kecewa berlebihan," imbau Budiman. Tampak hadir sejumlah LSM dan tokoh masyarakat diantaranya, KH Abdillah Soleh dari Ponpes Pasuruan, Asmara Nababan dan Hendardi.
(aan/)











































