Pembenahan ini menjadi tekad Direktur Jenderal Penyelanggaraan Haji dan Umroh (PHU) Kementerian Agama, Anggito Abimanyu. "Identifikasi kami dari semua peristiwa yang terjadi membuktikan pelayanan haji tahun ini masih perlu adanya pembenahan," kata Anggito kepada wartawan di kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah, Kamis (18/10/2012).
Kasus terbakarnya bus Ummul Quro yang mengangkut jamaah haji Indonesia menjadi salah satu hal yang perlu diperbaiki. Sebab banyak kerugian yang dialami jamaah akibat terbakarnya bus tersebut, karena koper, barang bawaan dan dokumen penting milik jamaah ikut terbakar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anggito mengatakan penyelesaian ganti rugi sampai saat ini belum selesai. Pemerintah Indonesia berusaha meminta tanggung jawab pengelola bus yang mengangkut jamaah. Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan melakukan pembahasan dengan pihak naqobah selaku pemegang lisensi angkutan haji.
"Kita sedang lakukan upaya win-win solution dalam persoalan ini," katanya.
Anggito menginginkan semua jamaah memperoleh layanan bus yang memiliki bagasi lebih besar sehingga koper/barang bawaan dapat terangkut semua. Barang-barang bisa diletakkan di bagasi bawah, bukan diatas bus.
"Saya mau bagasi busnya menampung koper jamaah di bawah badan bus bukan di atas atap," kata staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM itu.
Mengenai masalah keamanan, kata dia, masih banyak jamaah haji Indonesia yang menjadi korban tindak kejahatan di Masjidil Haram. Modus kejahatan juga semakin meningkat.
"Kita perlu melibatkan kepolisian setempat dalam pengamanan lokal, selain menambah personel keamanan dari pemerintah Indonesia," pungkas dia.
(bgs/asy)











































