Korban Bom Bali Minta Pemerintah Terus Perhatikan Nasibnya

Korban Bom Bali Minta Pemerintah Terus Perhatikan Nasibnya

Gede Suardana - detikNews
Jumat, 12 Okt 2012 09:15 WIB
Korban Bom Bali Minta Pemerintah Terus Perhatikan Nasibnya
Jakarta - 10 tahun berlalu, para korban bom bali yang selamat masih menderita akibat luka-luka yang dialaminya. Mereka pun berharap pemerintah Indonesia tak melupakan penderitaan para korban dan tetap memberikan bantuan pendidikan, kesehatan, dan biaya hidup.

"Pemerintahh semestinya tahu apa yang kami rasakan. Kami korban bom Bali butuh fasilitas kesehatan karena kami harus rutin melakukan cek up kesehatan," pinta salah seorang korban bom Bali Thilona F Marpaung kepada detikcom, di Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran, Jumat (12/10/2012).

Thiolina menjadi korban bersama tiga rekannya saat melintas dengan mobil di depan pusat ledakan di Sari Club, Jl Legian 12 Oktober 2002. Ia menderita luka pada mata yang sangat parah. Serpihan kaca mobil masuk ke dalam matanya. Setelah menjalani beberapa kali operasi di Australia, pengelihatannya belum normal.

"Mata saya perih kalau ada di tempat yang terik," imbuhnya.

Thiolina masih beruntung dibandingkan dengan korban lainnya. Ia masih bisa bekerja di bidang sales and marketing sehingga bisa membiayai sendiri perawatan kesehatan matanya.

"Karena saya kerja, saya masih bisa merawat kesehatan mata. Tapi bagaimana dengan teman-teman saya yang masih terus cek kesehatan mata, telingan, dan badan mereka yang terbakar," ucapnya.

Thiolina dan beberapa rekannya bergabung dalam paguyuban para korban bom Bali, yaitu Isana Dewata (istri suami anak dan korban bom Bali). Setelah lama berlalu, Isana Dewata tak punya donatur tetap.

"Kami hanya tempat berkumpul dan berbagi cerita untuk saling menguatkan. Teman-teman saya masih punya masalah. Pemerintah harusnya terus membantu kesehatan, seperti memberikan kartu sehat kepada para korban bom bali seumur hidup utk berobat. Teman saya yang kulitnya terbakar, seumur hidup merasakan gatal-gatal," ungkap Thiolina.

Ia menuturkan, banyak para korban bom Bali yang kesulitan mencari pekerjaan dengan kondisi fisiknya yang tak lagi normal.

"Teman kami ada yg tak bekerja dengan layak. Yang terbakar 80 persen, orang melihatnya saja takut apalagi mengajaknya bekerja. Biaya untuk kehidupan sehari-hari saja susah. Pemerintah harusnya mmencari tahu kelangsungan dan kesehatan para korban pasca bom hingga sekarang," harap Tholina.

(gds/rvk)


Berita Terkait