Puteh dan GAM (1)
Keterlibatan yang Dibantah
Jumat, 10 Sep 2004 03:12 WIB
Banda Aceh - Tudingan terhadap Gubernur NAD Abdullah Puteh agaknya tak pernah sepi. Setelah disodok dengan kasus dugaan korupsi, kini Puteh harus dihadapkan pada dugaan terlibat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), karena pernah bertemu dengan anggota GAM sebelum menjabat sebagai gubernur.Setelah diburu wartawan beberapa hari ini, baru pada Kamis (9/9/2004) siang, Puteh memberikan keterangan seputar tuduhan tersebut. Jumpa pers yang dilakukan Puteh, digelar di ruang kerjanya di Kantor Gubernur, lantai 2, jalan Tengku Daud Beureueh, Banda Aceh.Sebelum dilakukan tanya jawab dengan wartawan, Puteh memberikan beberapa pernyataan. Pernyataan itu dikatakannya dalam kapasitasnya sebagai pribadi, bukan dalam kapasitasnya sebagai gubernur NAD.Berikut pernyataan yang dibacakan Puteh:1. Tidak ada janji, dukungan dan komitmen apapun yang saya berikan kepada GAM, dan sebaliknya, tidak pernah pula saya mengharapkan dukungan apapun dari GAM agar saya terpilih menjadi gubernur di Aceh.2. Tidak benar pertemuan yang berlansung antara kami adalah dalam rangka mendapat restu GAM, agar pencalonan saya sebagai gubernur berlangsung mulus dan tidak diusik ketika memimpin Aceh.3. Tidak pula benar, pertemuan itu dirancang dalam rangka memberikan dukungan konkret saya kepada GAM setelah saya terpilih menjadi gubernur NAD."Saya dari awal mencoba menjadi orang yang republikan. Ketika saya terpilih sebagai ketua KNPI, saya juga menjadi anggota Manggala BP7 bersama Abdurahman Wahid, Akbar Tanjdung. Sekolah saya pun, master saya ketahanan nasional," jelasnya kepada wartawan usai membacakan 'pernyataan sikap' yang telah dirancangnya itu.Puteh juga menegaskan, secara biologis, isterinya (Marlinda Poernomo) orang Jawa. "Apalagi kurangnya saya. Saya tidak tahu lagi," tukasnya.Sesalkan Pernyataan Panglima TNIPuteh juga melayangkan rasa sesalnya kepada Panglima TNI Jenderal TNI Endriartono Sutarto. Puteh menilai, Panglima TNI terlalu berlebihan menanggapi berita tersebut."Seharusnya sebagai sesama mitra, dia bisa check and recheck, ada saya, karena sama-sama berjuang untuk republik ini. Padahal dia idola saya sebenarnya," ujar Puteh berkeluh kesah.Ditanya wartawan ada tidak landasan hukum atau alasan yang tepat mengapa melakukan pertemuan dengan GAM, Puteh menjawab, pertemuannya tidak lebih dari rasa ingin melakukan rekonsiliasi dalam mempercepat proses damai di Aceh."Saya kira kita lihat pada suasana kebatinannya. Semua orang Aceh ketika itu, dan saya waktu itu belum menjadi gubernur di Aceh melakukan itu. (Menlu) Hassan Wirajuda yang penjabat juga melakukan pertemuan dengan GAM di Swedia. Begitu juga gubernur Aceh waktu itu, Pak Syamsudin Mahmud, kalau saya nggak salah. Tapi (kok giliran) kita tidak bisa bertemu," tandas Puteh.
(sss/)











































