"Saya sempat chatting sama Vk ke Annisa, lalu saya sampaikan salam Vk ke Annisa. Tapi Annisa salah paham, dia malah menuduh saya katanya rebut Vk. dia kesal sama saya, saya bilang telepon saja Vk kalau tidak percaya," kata teman sekolah Annisa, Fr, saat ditemui di rumah korban Jalan Lagoa Terusan, RT06/04, Lagoa, Koja, Jakarta Utara, Senin (1/10/2012).
Fr yang baru berusia 13 tahun tersebut menambahkan sejak chatting yang dilakukan hari Rabu (19/9) lalu, Annisa bersikap menjauh terhadap dirinya. Namun pada hari Minggu (30/9) kemarin, Fr sempat menerima telepon ganjil dari Annisa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fr sempat diam sejenak sebelum melanjutkan keterangannya, karena kalimat yang akan ia keluarkan membuat dirinya merinding. "Tapi mulai besok kamu nggak bisa temuin aku selamanya," ujar Fr menirukan kata-kata terakhir Annisa padanya.
Dugaan tidak berdasar ini diperkuat dengan 'display picture' BB milik Annisa yang memasang sebuah gambar kalimat perpisahan. Isi gambar kalimat tersebut ditunjukkan teman sekelas Annisa bernama Ry (13) pada wartawan di lokasi yang sama.
'Jika esok aku mati, aku harap ada seseorang yang memberitahumu, bahwa aku selalu menyayangi, dimana pun aku berada.'
Dugaan ini terbantahkan dengan ditemukannya surat wasiat Annisa yang menuliskan dirinya merasa putus asa atas penyakit yang dideritanya selama dua tahun. Dalam surat wasiat tersebut bahkan tertulis kata 'I Love Mama' dan permintaan maaf.
"I Love Mama. Saya melakukan ini karena tidak mau menyusahkan Mama. Saya juga tidak kuat menahan sakit operasi usus buntu," kata Annisa dalam surat wasiatnya yang ditunjukkan nenek Annisa, Siti, pada wartawan.
(vid/mpr)











































