"Saya kira pernyataan TK itu tak bisa kita lepaskan dari konteks kontestasi Pemilukada DKI yang dimenangkan oleh Jokowi-Basuki di DKI. Kecenderungannya memang ada posisi menguntungkan bagi popularitas dan elektabilitas Prabowo sebagai Capres 2014," kata pengamat politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, kepada detikcom, Jumat (28/9/2012).
Taufiq Kiemas memang cukup lihai memainkan peranan. Pernyataan Taufiq diarahkan untuk memutus Jokowi Effect (efek popularitas Jokowi) dari Prabowo Subianto yang jelas diuntungkan oleh kemenangan Jokowi di Pilgub DKI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah soal konstruksi persepsi publik yang akan berkaitan dengan efek domino atau 'bandwagon effect' dari Jokowi pada Pilpres 2014. Karena Mega dan Prabowo maju sebagai RI-1 tentu akan menjadi kompetitor," lanjut Gun.
Makanya, lanjut Gun, seluruh potensi pemenangan keduanya akan menjadi area pertarungan baru. Namun, jika keduanya masih bisa bernegosiasi untuk berkoalisi di Pilpres 2014 dengan catatan salah satunya bersedia mengajukan calon di RI-2.
"Misalnya Mega menjadi king maker untuk memajukan kandidat potensial lain selain dirinya untuk dampingi Prabowo di Pilpres. Jika melihat trend yang terjadi belakangan memang yang paling berpotensi di Pemilu 2014, PDIP harus melakukan regenerasi dengan memajukan kandidat lain selain Mega,"terangnya.
(van/nrl)











































