Taufiq Kiemas Jauhkan 'Jokowi Effect' dari Prabowo

Taufiq Kiemas Jauhkan 'Jokowi Effect' dari Prabowo

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Jumat, 28 Sep 2012 10:05 WIB
Taufiq Kiemas Jauhkan Jokowi Effect dari Prabowo
Jakarta - Pernyataan kapok berkoalisi dengan Gerindra yang dilontarkan politisi senior PDIP Taufiq Kiemas dinilai sangat politis. Taufiq Kiemas sedang menjauhan Jokowi Effect (efek popularitas Jokowi) yang sedang dinikmati capres Gerindra, Prabowo Subianto.

"Saya kira pernyataan TK itu tak bisa kita lepaskan dari konteks kontestasi Pemilukada DKI yang dimenangkan oleh Jokowi-Basuki di DKI. Kecenderungannya memang ada posisi menguntungkan bagi popularitas dan elektabilitas Prabowo sebagai Capres 2014," kata pengamat politik dari UIN Jakarta, Gun Gun Heryanto, kepada detikcom, Jumat (28/9/2012).

Taufiq Kiemas memang cukup lihai memainkan peranan. Pernyataan Taufiq diarahkan untuk memutus Jokowi Effect (efek popularitas Jokowi) dari Prabowo Subianto yang jelas diuntungkan oleh kemenangan Jokowi di Pilgub DKI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernyataan TK menurut saya bagian dari manajemen pengelolaan isu untuk membuka kemungkinan-kemungkinan ke depan. Mengingat, posisi Mega juga yang belum final apakah akan maju lagi atau tidak di Pilpres 2014. Jika Mega tetap maju, maka tentu harus ada strategi untuk tidak menjadikan Prabowo terus memperoleh keuntungan politis dari posisi Jokowi di DKI," kata Gun.

"Ini adalah soal konstruksi persepsi publik yang akan berkaitan dengan efek domino atau 'bandwagon effect' dari Jokowi pada Pilpres 2014. Karena Mega dan Prabowo maju sebagai RI-1 tentu akan menjadi kompetitor," lanjut Gun.

Makanya, lanjut Gun, seluruh potensi pemenangan keduanya akan menjadi area pertarungan baru. Namun, jika keduanya masih bisa bernegosiasi untuk berkoalisi di Pilpres 2014 dengan catatan salah satunya bersedia mengajukan calon di RI-2.

"Misalnya Mega menjadi king maker untuk memajukan kandidat potensial lain selain dirinya untuk dampingi Prabowo di Pilpres. Jika melihat trend yang terjadi belakangan memang yang paling berpotensi di Pemilu 2014, PDIP harus melakukan regenerasi dengan memajukan kandidat lain selain Mega,"terangnya.

(van/nrl)


Berita Terkait