"Daur ulang, jadi sama tapi konteks yang berbeda, masalahnya sekarang bagaimana mengurangi resiko implikasi pengulangan tersebut?" kata pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro, kepada detikcom, Kamis (20/9/2012).
Resiko implikasi pengulangan yang dimaksud Zuhro adalah munculnya kekecewaan publik terhadap tokoh-tokoh yang dikenal karena figurnya. Hal tersebut menurut Zuhro telah terjadi pada SBY dan PDIP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zuhro pun menganalisis adanya kemiripan antara Pemilu dengan pilgub DKI Jakarta yang berdasarkan quick count dimenangkan oleh Jokowi-Ahok. Namun Zuhro menyambut pelaksanaan pilgub DKI Jakarta yang berjalan lancar karena peran serta masyarakat.
"Nah, Jakarta ini posisinya juga mirip, hal-hal yang sama mungkin saja terjadi, karena masyarakat sejak awal putaran pertama hingga putaran kedua ikut mengawal dan mengantarkan suara dalam kontes pilgub. Ini bentuk partisipasi dan perhatian masyarakat dengan ekspektasi yang tinggi," tutup Zuhro.
Pada pemilu 2004 lalu, SBY yang ketika itu berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) berhasil meraih suara hingga lebih dari 60 persen. Dukungan masyarakat Indonesia yang besar terhadap SBY didorong figuritas SBY yang dinilai memberi harapan baru tentang perubahan dan reformasi.
Hal yang sama terjadi pada lima tahun sebelumnya. Pada pemilu 1999, PDIP mampu memperoleh suara hingga 33,75% dan meraih 153 kursi di DPR. Apresiasi rakyat Indonesia yang besar terhadap PDIP ini karena penilaian umum yang melihat PDIP sebagai parpol yang mengalami penzaliman di era Orde Baru, dan membawa harapan baru saat reformasi baru bergulir.
(vid/rmd)










































