Acara ini digelar oleh KBRI di Beijing yang langsung dipimpin oleh Dubes RI untuk China, Imron Cotan. Sebagai narasumber adalah pengamat politik internasional yang juga Deputi Seswapres RI Prof Dewi Fortuna Anwar dan Dirut Garuda Emirsyah Satar. Rapat yang berlangsung pukul 09.00 hingga pukul 11.30 waktu setempat, Selasa (18/9/2012) ini diikuti oleh perwakilan dari China dari berbagai latar belakang. Para diplomat RI juga hadir.
Dewi Fortuna mendapat kesempatan pertama menyampaikan materi bertema 'Indonesian Politicial Development and Its Implication for ASEAN+1 Connectivity'. Dewi memaparkan kondisi Indonesia yang sangat strategis, termasuk peran di G20 dan Asean. Dia juga memaparkan mengenai kondisi politik dan ekonomi Indonesia secara gamblang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indonesia sangat membutuhkan dukungan dari partisipasi dari para partner, terutama dari regional, dalam rangka konektivitas Asean itu. "Dan China merupakan mitra yang sangat penting," ujar Dewi.
Sementara Emirsyah Satar memaparkan mengenai peranan Garuda dan 'Air Connectivity Asean'. Dalam paparannya, Emirsyah menyampaikan bahwa saat ini maskapai penerbangan di dunia yang dinilai baik didominasi oleh Asia dan Timur Tengah, tidak lagi oleh Eropa. Pada tahun 2015, dengan diberlakukannya Open Sky Policy, penerbangan ke Asia Pasifik akan menjadi sangat ramai dan memiliki nilai bisnis yang luar biasa.
Karena itu, Garuda sudah menambah frekwensi penerbangannya ke China. Ada tiga rute yang dimiliki Garuda, yaitu Shanghai, Guangzhou, dan Beijing. "Untuk Shanghai, sudah kami naikkan frekwensinya dari tiga menjadi lima seminggu," kata Emirsyah. Dengan akan meningkatnya perpindahan penumpang di Asia Pasifik, Garuda siap untuk mengantisipasinya, termasuk membawa penumpang dari China ke Indonesia maupun sebaliknya. Apalagi, diperkirakan jumlah wisatawan China yang akan berkunjung ke Indonesia akan semakin meningkat tajam, begitu juga sebaliknya.
Forum ini kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Banyak pertanyaan yang disampaikan pihak China. Bahkan, ada peserta yang menanyakan mengenai konstelasi politik pada Pemilu 2014. "Siapa kah menurut Anda yang paling layak memimpin Indonesia pada 2014 nanti," kata salah seorang peserta kepada Dewi Fortuna.
Atas pertanyaan ini, Dewi Fortuna mengaku tidak bisa memprediksi. Calon-calon yang muncul juga masih orang-orang lama, seperti Aburizal Bakrie, Megawati, dan Prabowo. Bisa jadi, kata Dewi, pemilihan gubernur DKI akan memiliki pengaruh dalam Pilpres 2014 nanti. Terlepas dari itu, Dewi melihat bahwa pengelolaan parpol-parpol di Indonesia masih seperti pengelolaan perusahaan. "Siapa yang memiliki share yang lebih besar, dalam hal ini ketua umumnya, yang akhirnya maju sebagai calon presiden," kata Dewi.
Ada juga perwakilan dari China yang komplain terkait pengerjaan proyek investasi di Indonesia, terutama mengenai pembebasan lahan yang sangat sulit dan kerja sama dengan perusahaan lokal. Terhadap hal ini, Dewi menyampaikan terima kasih atas kritiknya. Yang pasti, kata Dewi, hal-hal seperti itu akan terus diperbaiki.
Peserta lain juga menanyakan tentang tanggapan KBRI terkait demo massa China di Kedubes Jepang di Beijing terkait sengketa pulau Senkaku. Namun Imron Cotan tidak mau terjebak dengan pertanyaan itu. Dia berharap bahwa kasus itu bisa diselesaikan China dan Jepang dengan damai.
(asy/van)











































