Bripka Dwi adalah anggota Polsek Serengan, Solo. Malam itu, Dwi memang bertugas jaga di pos polisi Plasa Singosaren. Ketika hendak berangkat bertugas, kenang Niken, Bripka Dwi sempat menunjukkan gelagat agak berbeda. Pandangan matanya kosong dan tidak berpamitan dengan kata-kata meskipun Dwi sempat menengok lagi ke arah Niken yang mengantar keberangkatan suami.
"Bapak memang cukup pendiam. Saya juga tidak begitu merasakan ada firasat atau perubahan ketika Bapak berangkat kerja tanpa berpamitan dengan kata-kata. Padahal Bapak sempat kembali menengok melihat saya juga dengan diam saja ketika sampai di depan pintu pagar," papar Niken, kepada wartawan di rumah duka, Jalan Bima Sakti nomor 28 Blok C RT10/22, Perum Ngringo Indah, Karanganyar, Jumat (31/8/2012) pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mendengar kabar itu, Niken langsung menghubungi Polsek Serengan, Solo. Dari polisi piket dia mendapat kabar bahwa memang terjadi penembakan di pos polisi Singosaren dan Bripka Dwi menjadi korban penembakan. Petugas piket Polsek juga menyarankan agar Niken segera menuju RS PKU Muhammadiyah Solo, tempat suaminya dirawat.
Bersama dua putranya, Niken lalu menuju RS PKU Muhammadiyah Solo. Di rumah sakit itulah suaminya menghembuskan napas terakhir akibat luka tembak yang dideritanya. Dua peluru menembus dada, dua lainnya melukai tangan. Selanjutnya jenazah Bripka Dwi dibawa ke Labfor RS Moewardi, Solo, untuk dilakukan autopsi.
Sesuai rencana, Bripka Dwi yang kemungkinan akan naik pangkat secara anumerta menjadi Aipda akan dimakamkan di pemakaman keluarga besar di Temu Ireng, Bejen, Karanganyar. Berangkat dari rumah duka pukul 13.00 WIB nanti. Dwi meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yaitu Gupta Andika Pratama, Arya Dwi Wardana, dan Dani Tri Prajagupta.
(mbr/try)











































