Siklon Tropis Tewaskan Lebih dari 700 Orang dalam 3 Bulan Terakhir

Siklon Tropis Tewaskan Lebih dari 700 Orang dalam 3 Bulan Terakhir

Elvan Dany Sutrisno - detikNews
Kamis, 23 Agu 2012 17:17 WIB
Jakarta - Selama tiga bulan terakhir, yaitu Juni hingga Agustus 2012, banjir dan longsor yang disebabkan siklon tropis mendominasi bencana secara global. Lebih dari 700 orang meninggal dan jutaan penduduk menderita.

Demikian disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers kepada detikcom, Kamis (23/8/2012).

Kenyataannya dalam enam dasawarsa terakhir siklon tropis meningkat 878 persen. Selama Juni-Agustus banjir dan longsor dengan dampak besar terjadi di China, Bangladesh, India, Rusia, Korea Utara, Philipina dan Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"China mengalami banjir besar beruntun pada 20 Juni 2012 dan 21 Juli 2012. Pada 20 Juni, banjir menyebabkan 399 daerah terendam banjir sehingga 50 orang meninggal, 42 orang hilang, dan 10,5 juta jiwa terdampak. Kerugian ditaksir USD 1,62 miliar. Pada 21 Juli, China kembali diterjang banjir akibat hujan deras 460 mm selama 14 jam. Hujan tersebut terbesar dalam 60 tahun terakhir. Akibatnya 79 orang meninggal, 66 ribu orang mengungsi, dan 2 juta jiwa menderita," paparnya.

Hal yang sama terjadi di Philipina. Terjangan siklon tropis Saola dan depresi tropis Khanun pada 30 Juli sampai 7 Agustus menyebabkan 96 orang meninggal, 41 ribu orang mengungsi dan 3,5 juta jiwa menderita.

"Di Indonesia, saat sebagian wilayah mengalami kemarau, banjir dan longsor melanda beberapa wilayah di bagian utara Indonesia. Bencana ini imbas dari siklon tropis. Tercatat banjir dan longsor terjadi di Gorontalo, Padang, Ambon, Aceh Tenggara dan sebagainya. Diperkirakan hingga Oktober 2012 ancaman siklon tropis akan tetap ada. Sebab puncak keberadaan siklon tropis di utara terjadi pada Agustus kemudian menurun hingga Oktober," katanya.

Kondisi demikian perlu diantisipasi. Rencana kontinjensi bencana banjir dan longsor perlu mengakomodasi perubahan perilaku cuaca. Pola hujan dan hidrologi sungai sudah berubah akibat perubahan iklim global sehingga analisis hidrologi pun perlu penyesuaian.

"Ironisnya belum semua daerah, khususnya kabupaten/kota menyusun rencana kontinjensi bencana," kritiknya.

(van/ndr)


Berita Terkait