Kepala Sekolah PAUD, Emmawati, mengatakan gedung yang beralamat di jalan Mangga Besar XIII, Sawah Besar, Jakarta Pusat ini terakhir kali diperbaiki pada tahun 2000. Namun, pada tahun 2011 lalu mengalami kerusakan berat.
"Atapnya bocor. Pernah banjir juga, sekitar 70 hingga 80 centimeter, tidak sampai satu meter," ujar Emmawati saat berbincang dengan detikcom di Jalan mangga Besar XIII, Jakarta Pusat, Kamis (2/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Katanya ada dana untuk anggaran November 2012 ini, dan kepala sekolah disuruh membuat proposal. Namun kita pesimis karena sekolah ini kan swasta," katanya.
Emma mengatakan meski siswa tidak mengeluhkan kondisi gedung sekolah mereka secara langsung kepada pihak sekolah, namun pada akhir tahu ajaran lalu, banyak siswa yang pindah dari sekolah itu. Untuk siswa PAUD hanya tersisa 10 orang, padahal tahun lalu jumlah siswa sebanyak 33 orang.
"Sejauh ini saya lihat mereka (siswa) masih merasa nyaman, tidak ada keluhan. Mereka bahkan suka menawarkan untuk melakukan kegiatan bersih-bersih. Tapi akhir ajaran kemarin banyak yang pindah, bahkan tahun ini muridnya hanya 10 orang untuk PAUD," jelasnya.
Bahkan, lanjut Emma, di lantai dua hanya seperempat bagian yang digunakan karena ada ruangan yang mengalami kebocoran parah dan hampir ambruk. "Pernah ada siswa laki-laki yang naik ke sana dan hampir terjatuh, beruntung bisa segera diselamatkan," katanya.
Sementara itu, Kepala SMP Swasta Mangga Besar 13, Udin, mengatakan pihaknya telah membuat proposal pengajuan bantuan kepada Kemendikbud. Dia pun berharap agar proposal bisa diterima dan sekolah tersebut kembali layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar.
"Kita sudah bikin proposal dan sudah kita ajukan ke Kemendikbud," ucapnya.
Dia pun mengakui banyak siswanya yang pindah pada tahun ajaran kali ini dikarenakan kondisi gedung sekolah yang memprihatinkan. Udin saat ini menunggu respons proposal yang telah diajukan tersebut. Dan mungkin, pihaknya juga akan mencoba mengajukan proposal kepada pihak swasta agar gedung tersebut layak untuk dijadikan tempat belajar mengajar.
"Banyak yang pindah karena merasa kurang nyaman dan sering banjir juga. Kita berharap bisa menerima bantuan. Dan kita juga akan coba mengajukan ke pihak swasta, tapi masih bingung, " sambung Udin.
Pantauan detikcom, gedung sekolah tersebut berlantai dua dan bercat krem. Di bagian atap banyak bekas bocor, bahkan langit-langitnya juga rusak parah. Sementara itu sebagian lantai di lantai dua keropos, bahkan hampir ambruk. Selain masalah fisik gedung, masalah keterlambatan gaji juga di alami oleh para guru. Namun Emma mengatakan para guru tersebut tetap ikhlas mengajar.
"Gaji 3 bulan lalu masih nunggak. Tapi guru-guru di sini sukarela. Kita ikhlas ngajar di sini," katanya.
Untuk keseluruhannya, jumlah siswa PAUDhanya 10 orang. Siswa SD 70 orang dan siswa SMP 45 orang. Untuk biayanya, sekolah ini telah memberikan patokan, namun banyak siswa yang membayar di bawah nominal yang telah ditetapkan, karena sebagian siswa berasal dari kelas ekonomi menengah ke bawah.
"Iuran untuk PAUD Rp 50.000 per bulan. SD ada yang membayar Rp 30.000 hingga Rp 50.000 per bulan. Sedangkan SMP dari Rp 50.000 hingga Rp 80.000 per bulannya," jelas Udin.
(ray/nvt)











































