ADVERTISEMENT

Life Stories

Sudhamek AWS, Pebisnis Sukses yang Pernah Luka Batin karena Nama

- detikNews
Kamis, 19 Jul 2012 13:19 WIB
Jakarta - Sudhamek. Begitulah nama yang diberikan orang tua pada pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 20 Maret 1956 itu. Nama yang bagi banyak kalangan terdengar aneh. Bahkan karena namanya yang kerap jadi bahan ledekan, pria yang kini dikenal sebagai pebisnis sukses ini pernah mengalami luka batin.

Seperti dituturkan pria yang kemudian menjadi CEO Garudafood ini dalam buku 'Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang', tidak banyak kenangan manis semasa remaja. Nama Sudhamek dianggap kamso alias kampung tur ndeso (kampungan) bagi sebagian besar teman-temannya.

"Setiap pagi saya merasa 'diadili' pada waktu diabsen oleh guru. Begitu nama saya dipanggil, maka seluruh kelas tertawa sambil melihat saya," tutur Sudhamek.

Bahkan sepulang sekolah pun Sudhamek masih jadi bulan-bulanan guyonan teman-temannya. Ketika dibonceng seorang teman, dia diajak ngebut dan melaju zig zag. Sudhamek remaja sangat ketakutan, namun dia malah ditertawakan teman-temannya.

"Oleh sebab itulah, SMA saya lalui dengan tekanan batin dan itu membuat prestasi sekolah saya jelek sekali. Kalau syarat naik kelas adalah K6 (nilai merah tidak boleh akumulatif lebih dari 6), maka saya selalu nyaris di border line," papar alumnus Universitas Satya Wacana, Salatiga, ini.

Sering di-bully saat sekolah justru menjadi modal berharga bagi Sudhamek. Karena tidak mau jadi bahan olok-olokan, dia pun berusaha berprestasi dan tidak mau kalah dengan teman-teman lainnya. Menurutnya, prestasi bisa diraih dengan baik tanpa harus kelelahan bila memiliki kepribadian yang berorientasi pada 'achievement' dan bukan pada winning or losing.

Saat masuk kuliah di Fakultas Ekonomi, sebenarnya Sudhamek tidak percaya diri lantaran nilai ujian masuknya agak sulit untuk diterima. Di kost, dia gunakan waktunya untuk membaca-baca materi kuliah. Bukan karena Sudhamek adalah anak super rajin, namun karena tidak PD bertemu teman-teman mahasiswi lantaran kepalanya yang plontos selepas diplonco.

Tes pertama Sudhamek saat itu adalah Pengantar Ekonomi Perusahaan. Dia tidak menyangka mendapat nilai bagus. Sejak itu dia lebih mengenali dirinya bahwa kalau mau berusaha, dia bukanlah orang bodoh.

Sejak itu Sudhamek berubah banyak. Dia kerap memaksa diri sendiri asal itu baik bagi perkembangan dirinya. Jika dulu Sudhamek sulit bergaul, menunggu teman datang di pojok ruangan, maka sekarang bergaul dengan berbagai kalangan. Jika dulu dia bicara terlalu cepat sehingga tidak ada yang paham, maka sekarang dia berbicara lebih tertata. Dia tak henti-henti menyemangati diri sendiri untuk terus belajar.

"Saya bukan anak terpandai. Dari sejak SD sampai SMA tidak pernah juara. Prestasi akademik baru saya raih waktu di UKSW, bahkan sekaligus menyabet double degree, yaitu di Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum," papar bungsu dari 11 bersaudara ini.

Menurut Sudhamek, hal itu bukan hanya karena dia punya learning culture yang kuat namun juga karena ada kemauan kuat dalam mengerjakan apapun. Dia selalu bersungguh-sungguh, tanpa kenal lelah dan menyerah.

Setelah lulus dan menikah, Sudhamek bekerja di PT Gudang Garam, Kediri. Hal ini disesali sang ayah yang tidak ingin putranya bekerja untuk orang lain. "Beliau selalu mengajarkan 'biarpun kecil, jadilah tuanmu sendiri dalam hidup ini'," ucapnya.

Meski begitu, karena pernah bekerja sebagai profesional lebih dari 13 tahun, Sudhamek belajar banyak hal tentang manajemen dan kepemimpinan. Dalam benaknya tersimpan tekad kuat bahwa hidup harus diisi dengan kebermaknaan.

"Bukan hanya sekadar mengejar karier duniawi, tetapi juga surgawi. Bukan hanya hidup untuk diri sendiri melainkan bagaimana berfaedah bagi banyak orang lain," ujar Sudhamek yang membangun Garudafood sebagai spiritual company ini.

Sudhamek sebenarnya ingin melanjutkan studi master ke luar negeri. Sayang, orang tua tidak mampu lagi membiayainya. Namun keinginan itu terwujud melalui anak-anaknya. Kedua putranya jebolan undergraduate University of Michigan, Ann Arbor. Sedangkan untuk jenjang master, keduanya melanjutkan kuliah dia Babson University, Boston. Sedangkan putri bungsu Sudhamek bersekolah di Lasalle Art College di Singapura.

(vit/nrl)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT