'5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia' Dimusnahkan, Diharap Tak Ada Kegaduhan

'5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia' Dimusnahkan, Diharap Tak Ada Kegaduhan

Ray Jordan - detikNews
Rabu, 13 Jun 2012 15:47 WIB
5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia Dimusnahkan, Diharap Tak Ada Kegaduhan
Jakarta - Buku yang menimbulkan keresahan, '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia', telah ditarik dari peredaran dan dimusnahkan oleh penerbitnya, PT Gramedia Pustaka Utama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengapresiasi langkah ini. Dengan langkah Gramedia, diharapkan tidak ada kegaduhan di tengah masyarakat.

"Kita segera minta Gramedia untuk ambil langkah dan direspons cepat. Kita mengharapkan tidak ada lagi kegaduhan, sudah terlalu banyak kegaduhan," ujar Ketua Komisi Fatwa MUi, Ma'ruf Amin, usai pembakaran buku karya Douglas Wilson itu di halaman Bentara Budaya, Kompleks Gramedia Pustaka Utama, Palmerah, Jakarta, Rabu (13/6/2012).

MUI berharap kasus ini segera selesai dan tidak menimbulkan polemik berkepanjangan. Sebab Gramedia sudah melakukan tindakan dan merespons positif keluhan masyarakat. Terkait Front Pembela Islam (FPI) yang telah melaporkan masalah ini ke Polda Metro Jaya, MUI akan melakukan komunikasi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kita akan coba komunikasi. Kita berharap agar umat Islam, karena sudah ada itikad baik yang dilakukan dengan cepat dari Gramedia, artinya ada keinginan untuk menyelesaikan ini. Bukan memperpanjang," imbuh Ma'ruf.

MUI tidak akan melakukan langkah hukum terkait sempat diterbutkannya buku '5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia' ini, sebab penerbit sudah mengambil langkah positif. Karena ada isi buku itu yang membuat marah umat Islam, maka buku tersebut tidak boleh dicetak ulang.

"MUI kan alat kontrolnya masyarakat, jadi tetap mengontrol. Jadi kalau ada masyarakat yang melapor baru kita bereaksi. MUI kan butuh informasi dari masyarakat. Sama halnya seperti aliran sesat yang dilaporkan masyarakat. Kita sudah ada larangan untuk tidak menjelek-jelekkan Nabi. Kriteria aliran sesat juga sudah ada," papar Ma'ruf.

Poin apa yang jadi keberatan dalam buku itu? "Ada satu kalimat yang secara leterlek diambil dari bahasa Inggris yang intinya Nabi Muhammad itu dianggap sebagai perompak dan perampok. Jelas itu bertentangan," ucap Ma'ruf.

Dia menjelaskan saat Perang Badar terjadi, Nabi Muhammad mencegat Quraisy dari Madinah. Nah itu dikatakan sebagai perampok dan perompak sehingga membuat tersinggung umat Islam. 

"Itu buku yang terjemahan dari bahasa Inggris, terjemahannya tidak diubah dan menimbulkan protes. Maka dari itu kita minta agar buku itu ditarik," jelas Ma'ruf.

Saat pembakaran buku bersampul kuning itu dilakukan, Ma'ruf mengaku tidak menghitung jumlahnya. Yang terpenting, imbuhnya, permintaan agar buku ditarik dari peredaran dan dimusnahkan telah dilakukan.

"Kita minta agar pihak penerbit meminta maaf kepada masyarakat. Dan ini sudah dilakukan oleh Gramedia. Semuanya sudah, penarikan sudah, pemusnahan sudah dan sudah dilakukan permintaan maaf di media. Bahkan saya dengar juga karena ini masalah internal, ada semacam penindakan disiplin juga," papar Ma'ruf.

Unsur lalai diakui Gramedia Pustaka Utama setelah ada surat pembaca di Republika yang ditulis salah satu warga Muhammadiyah pada Jumat 8 Juni lalu. Kemudian pada 9 Juni 2012, muncul perintah tarik buku tersebut oleh Gramedia Pustaka Utama.

Namun pada 10 Juni masih ada buku yang belum ditarik di toko Gunung Agung di Arion Plaza. Berdasarkan ini salah satu anggota Front Pembela Islam (FPI) yang mengatasnamakan sebagai warga biasa ke Polda Metro Jaya.

Habib Novel selaku Sekretaris FPI DKI Jakarta yang mendampingi pelapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya, Senin (11/6/2012) mengatakan pada halaman ke-24 dalam buku tersebut, si pengarang menuliskan kata-kata yang menjurus ke penghinaan terhadap Nabi Muhammad. Buku tersebut disadur ke dalam bahasa Indonesia oleh penerbit.

Pada Selasa (12/6) kemarin ada pertemuan Dirut Gramedia Pustaka Utama dengan MUI. Pemusnahan buku ini adalah salah satu hasil pertemuan tersebut.

(/ndr)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini