"Itu ya tidak fairnya dari survei itu karena pernyataan seseorang itu tidak mutlak. Sama seperti orang memilih yes or no. Pada waktu ditanya lembaga apa, tidak ada kriterianya. Maksudnya terkorup apa, itu kelemahan survei," kata Jafar kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (11/6/2012).
Menurut Jafar, survei tersebut tidak clear menyebutkan pertanyaan yang diajukan kepada responden dan kasus apa yang dimaksud dalam pertanyaannya tersebut. Menurutnya, tidak semua anggota DPR korup.
"Pertanyaannya tidak dijelaskan. Itu tidak fair. Subjektif. Masih ada anggota DPR yang baik. Statement itu tidak fair. Literatur cuma media. Satu orang tidak bisa mewakili 560 anggota. Kecuali 560 orang korupsi semua. Karena itu bisa membuat ini suatu survei mengolah data," keluh Jafar.
Menurut Jafar, semestinya survei dilakukan untuk mendidik rakyat. Bukan untuk mendiskreditkan lembaga tertentu.
"Karena caranya sudah bisa subjektif itu bisa iya bisa tidak. Ini menyedihkan ada pembodohan terhadap khalayak," tandasnya.
(van/rmd)











































