"Kami tidak melarang diselenggarakan. Tapi itu tidak diizinkan kalau di UGM," ujar Direktur Pascasarjana UGM, Prof Dr Hartono, saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (9/5/2012).
Hal ini, lanjutnya, terkait dengan nama besar UGM, sehingga banyak orang yang ingin membonceng. "Kalau bisa (diskusi) di sini bisa langsung mendunia. Ini budaya entertainment model baru," imbuh Hartono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita seleksi juga kerja sama internasional, menguntungkan atau tidak. Ini harus diwaspadai. Sesuatu yang timbul di Gadjah Mada itu bisa dipercaya," sambung Hartono.
"Kami tidak larang, tapi jangan di UGM. Apa yang dia (Irshad Manji) sampaikan itu mungkin cocoknya 50 tahun lagi," ucap dia.
UGM membatalkan diskusi Irshad Manji dengan pertimbangan nilai-nilai yang dipegang UGM dan dampaknya di masyarakat. Karena mudharatnya dinilai lebih banyak ketimbang manfaatnya, terpaksa diskusi dibatalkan.
Sebelumnya diskusi Irshad Manji terkait bukunya 'Allah, Liberty and Love' dibubarkan FPI di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (4/5). Irshad Manji yang dilabeli Barat "Feminis abad 21" dituding FPI menyebarkan paham gay dan lesbian.
(/nrl)










































