SBY menerima Kartu Inafis atau Indonesian Automatic Fingerprint Identification itu pada 30 Januari 2009. Saat itu SBY tengah meresmikan program 'Quick Wins' di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta. Saat itu Kapolri masih dijabat Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri.
Quick Wins merupakan program reformasi Polri yang meliputi Quick Response, Transparansi Pelayanan SIM, STNK dan BPKP, Transparansi Proses Sidik serta Transparansi Rekruitmen Personel.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nah, saat berkunjung ke gedung Inafis, SBY menjalani proses pembuatan kartu. SBY tampak meletakkan jemarinya di sebuah alat yang tersambung dengan layar komputer. Tak lama kemudian, kartu pun jadi. SBY dengan senyum lebar memamerkan Inafis, didampingi oleh BHD.
Hanya saja, pekajat Polri kala itu menyebutkan bahwa kartu identitas terpadu itu gratis. Entah mengapa, kini pembuatan kartu itu dikenakan biaya Rp 35 ribu.
Pada Selasa (17/4/2012) kartu Inafis kembali diluncurkan. Adalah Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Sutarman yang meresmikannya di Kantor Polres Jaksel, Jl Wijaya, Jakarta.
"Biaya khusus Inafis Rp 35 ribu," kata Sutarman saat dikonfirmasi, Kamis (19/4/2012).
Kartu Inafis itu nantinya akan digunakan untuk data sidik jari. Di dalamnya terdapat kode-kode mengenai sidik jari kita. Selain itu, tentu lengkap berisi data riwayat hidup kita.
Kartu Inafis bukan merupakan sebuah kewajiban. Namun menurut Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Taufik, bagi pemohon SIM baru, tentu harus memiliki kartu Inafis. Hal ini terkait dengan syarat sidik jari di SIM.
Taufik melanjutkan, kartu Inafis ini berguna bagi bank data sidik jari. Meski tidak diharapkan, apabila terjadi suatu bencana, dan banyak terdapat korban jiwa, apabila seseorang memiliki kartu Inafis maka bisa langsung dikenali lewat sidik jarinya.
(ndr/nrl)











































