"Bukan cuma hal yang buruk seperti istri simpanan atau kekerasan dan licik-licikan, tapi juga terlalu berat untuk siswa. Misalnya ada LKS untuk siswa kelas 1-2 SD yang diminta menulis untuk mengeja ulang," tutur Direktur Riset dan Pengembangan Program Ikatan Guru Indonesia, Dhitta Puti Sarasvati, dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (13/4/2012).
Perempuan yang akrab disapa Puti ini mencontohkan siswa SD diminta menulis untuk mengeja kata dalam bahasa Inggris 'car'. Sehingga diperoleh tulisan: si/ei/ar. Jika pengejaan itu diucapkan, Puti tidak keberatan. Namun menjadi sangat aneh ketika pengejaan itu malah harus ditulis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puti lantas membeberkan contoh lainnya, dalam buku Pengenalan Kehidupan Lingkungan Jakarta (PKHKJ) yang sekarang Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Dalam salah satu buku, Puti menemukan salah satu cara pembelajaran PLKJ di sekolah dengan meminta siswa membaca suatu artikel di bab pertama buku teks dan kemudian menjawab 10 pertanyaan yang berhubungan dengan wacana tersebut.
"Wacananya berisi seperti ini: Jika kamu mengunjungi mal, tentu kamu pernah melihat restoran di antara toko-toko yang ada. Kamu bahkan mungkin pernah melihat adanya lantai khusus atau lantai khusus restoran, di sana berbagai jenis makanan sudah tersedia. Kamu tinggal memilih makanan yang kamu sukai. Melalui tulisan ini, siswa diajak untuk menjadi konsumtif, terutama melalui pernyataan 'kamu tinggal memilih makanan yang kamu sukai'," tuturnya.
Padahal, lanjutnya, tidak semua anak memiliki orang tua yang memiliki perekonomian lebih dari cukup untuk bisa memenuhi makanan apapun yang disukai anaknya di mal. Padahal anak bisa diajak melihat mal dari sisi yang lain. Misalnya jam kerja karyawannya, berapa pemasukan toko-toko yang ada di mal, atau berbagai jenis pekerjaan di mal.
"Lalu anak diminta menyebutkan pasar swalayan yang ada di sekitarnya. Sampai situ masalah belum selesai. Ini namanya doktrinasi besar-besaran, karena anak diminta menjawab mengapa belanja swalayan lebih nyaman. Ini untuk apa? Apakah agar pasar tradisional bisa leluasa digusur sehingga anak pun didoktrin begitu," imbuh Puti.
Tak dapat dipungkiri, apa yang dilakukan anak juga dipengaruhi oleh tontonan televisi. Namun tetap saja yang menjadi perhatian besar adalah sekolah sebagai lembaga formal pendidikan.
"Sebagai lembaga formal maka proses di dalamnya harus benar-benar mendidik. Meski televisi yang juga bisa jadi pendidikan informal mau kaya bagaimana, tapi sekolah jangan dibiarkan. Buku pelajaran adalah sesuatu yang ada di dalam sekolah, ini yang secara formal dipelajari," sambung Puti.
Keprihatinan terhadap materi buku siswa SD bermula dari kisah 'Bang Maman dari Kali Pasir' yang mengandung istilah istri simpanan. Istilah ini terkuak saat Hana (8), siswa kelas 2 SD Angkasa IX, Halim, bertanya pada ibunya, Intan. "Bu, istri simpanan itu apa?" Hal itu membuat Intan terperanjat. Dia terpaksa harus sedikit berbohong untuk menjawab pertanyaan itu. Intan lantas mengalihkan perhatian anaknya.
Kisah tersebut ada di dalam lembar kerja siswa (LKS) tentang Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta. Meski dalam teks kisah ada istilah istri simpanan, namun istilah itu tak muncul dalam soal-soal yang ada.
Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan memanggil CV Media Kreasi terkait tercetaknya tulisan 'istri simpanan'. Sedangkan Dinas Pendidikan DKI akan mendiskusikan hal ini dengan sekolah-sekolah yang ada di Jakarta. CV Media Kreasi selaku penerbit buku akan menarik buku tersebut per 13 April ini. Pun dengan SD Angkasa IX yang telah menggunakan buku itu, akan menarik buku yang sudah sampai ke tangan siswanya.
(/nrl)










































