"Saya memang salah, khilaf. Unuk itu, saya meminta maaf kalau memang sudah salah," ujar Sani kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (10/4/2012).
Sani mengaku tidak sengaja menyerempet Rashid kala itu. Menurutnya, Sani terjatuh lantaran berupaya menghentikan mobil Honda City B 8784 NN yang dikemudikannya kala itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sani menjelaskan, pagi itu sekitar pukul 08.05 WIB, ia bertolak dari rumahnya di kawasan Jakarta Timur. Ia memburu waktu karena hendak rapat di kawasan SCBD, Jakarta. Sani bekerja di PT UNA Enterprise, perusahaan supplier peralatan untuk perminyakan.
"Dari cawang terus ke Pancoran. Sampai Pancoran ternyata 1 jam lebih, saya sempat uring-uringan juga. Terus saya jalan terus, sampai di TL Kuningan jam 10.15 WIB," urainya.
Setibanya di TL Kuningan, lampu kuning menyala. Saat itu, kendaraan mengarah ke Slipi masih terjebak di yellow box junction (di tengah perempatan). Ia kemudian banting setir ke kiri, untuk menghindari antrean panjang.
"Jadi kayaknya zigzag begitu. Di depan ada polisi, di jalan yang u-turn, bawah jalan layang, dia stand by di situ satu orang, lalu saya disemprit. Lampu hijau itu 113 detik seingat saya, saya salah apa saya pikir saya dalam hati," paparnya.
Kakek yang baru memiliki satu cucu itu kemudian memelankan laju kendaraannya. Petugas polantas yang belakangan diketahui bernama Briptu A Rashid kemudian menghentikan kaju kendaraannya untuk memeriksa Sani.
"Saya tanya, salah saya apa. Saya mau ditahan itu apa salah saya, tapi nggak dijawab, saya mau rapat saya bilang. Kalau memang nggak ada salah saya, ya sudah," katanya.
Karena pertanyaan Sani tidak dijawab Rashid, ia kemudian bermaksud untuk meninggalkan Rasid. Kala itu, Sani juga diselimuti perasaan dongkolbterhadap Rasid karena telah bersikap kasar.
"Dia maki-maki saya, tapisaya tanya salah saya apa, dia nggak jawab. Saya terus mundur, jadi dia ada di kanan, deket kaca spion saya, dipukul spion saya, spion tertutup, lalu saya pergi, dia jatuh," jelasnya.
Setelah meninggalkan Rashid yang sudah terjatuh, Sani merasa tidak terjadi apa-apa. Namun kemudian, seorang pengendara motor berteriak ke arah mobilnya, memberitahu bahwa ia tengah dikejar polisi.
Posisi mobil Sani saat itu sudah berada di depan gedung Mandiri. Dari situ, dia kemudian belok kiri lalu ke arah Cafe Bengkel. Di situlah, ia dihadang sejumlah motor polantas.
"Saya kemudian dihadang, lalu saya waktu itu mundurin mobil, dikiranya mau lari lagi. Terus ada mobil yang nyerempet polisi. Jadi bukan saya yang menyerempet polisi di situ, tapi mobil lain. Lalu saya diturunkan dari mobil, lalu saya serahkan kunci mobil saya," paparnya.
Sangkur Pemberian
Sementara terkait sangkur yang ditemukan di mobilnya, Sani mengaku bahwa sangkur tersebut pemberian dari temannya.
"Iya, itu saya lupa naro lagi. Itu suka dipakai buat belah-belah durian," katanya.
Saat ditanya alasannya mengemudikan mobil di usianya yang sudah lanjut, Sani mengaku secara fisik masih kuat. Ia pun tidak ingin seorang sopir untuk mengantar ke mana dia pergi.
"Percaya atau tidak, dulu mata saya minus 4, saya dulu pakai kacamata. Tapi sekarang saya tidak pakai kacamata. Lagi pula, kalau pakai sopir kan harus digaji," pungkasnya.
(mei/mad)











































