Susahnya membekuk bandar narkoba di LP Pekanbaru bisa menjadi gambaran. Tim dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan dari Kemenkum yang dipimpin Wamen Denny Indrayana saja sampai kesulitan untuk masuk ke lembaga pemasyarakatan (LP) itu.
"Ketika kita tiba, kondisi gerbang lapas terkunci, kita ketuk dengan batu tidak ada yang keluar. Karena melihat pagar pendek kita putuskan untuk melompati pagar," papar Plt Deputi Pemberantasan BNN, Brigjen Pol Benny Joshua Mamoto, saat jumpa pers di Gedung BNN, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Selasa (3/4/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah berhasil melompati pagar, tim kemudian berupaya memasuki pintu portir (pintu penjagaan). Denny berupaya meminta petugas jaga membuka pintu portir, namun setelah sekian lama mengetuk tidak juga ada yang membuka portir.
"Digedor ternyata tidak ada juga yang membuka sampai kita harus teriak," ujar Benny.
Setelah berhasil masuk, dengan melompat pagar setinggi 1 meter, BNN dan Wamenkum mengumpulkan seluruh staf LP dan sipir. Telepon seluler mereka diminta. Dan benar saja, ada SMS yang masuk dari salah seorang napi menanyakan adanya razia.
"Dan ternyata betul, ada pesan masuk ke HP salah seorang petugas menanyakan kebenaran adanya razia," terang Benny.
Bisa dibayangkan, hubungan yang terjadi antara oknum sipir dan narapidana dari percakapan SMS itu. Bagaimana bila balasan diberikan petugas kepada napi itu bahwa benar ada penggerebekan? Alamat bandar narkoba dan barang bukti urung dibekuk.
Pastinya, BNN menangkap 3 napi dan 1 orang sipir. Salah satu napi yang ditangkap yakni salah satu dedengkot bandar narkoba di LP itu.
(ahy/ndr)










































