"Agak meragukan karena pengambilan kesimpulannya agak sampelistis. Sebetulnya jauh lebih rumit, tidak bisa sesederhana orang menonton talkshow lalu cenderung memilih salah satu parpol," kata pengamat komunikasi politik, Ade Armando, kepada detikcom, minggu (11/3/2012).
Pakar komunikasi massa Universitas Indonesia ini menilai media turut dalam polemik politik, sehingga dua stasiun televisi tidak bersahabat dengan Partai Demokrat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ade menampik tudingan format acaralah yang menyebabkan survei Partai Demokrat menurun, melainkan karena tokoh representasi Partai Demokrat adalah tokoh yang kurang baik untuk Demokrat. Ade pun menyarankan Demokrat untuk memiliki strategi komunikasi politik seperti saat pertama kali muncul.
"Bukan karena talkshow-nya orang tidak mendukung Demokrat, tapi karena orang yang muncul bukan representasi yang baik untuk Demokrat. Jadi jangan salahkan medianya, memang Demokrat harus punya strategi komunikasi, tapi seperti biasa ketika Demokrat pertama kali muncul ada harapan untuk partai baru," ucap Ade.
Ade merespons naiknya partai Nasional Demokrat dalam survei ke posisi ke empat karena peran media. Namun Ade menilai hal ini tidak berpengaruh besar karena masyarakat hanya mencari alternatif.
"Kaitannya dengan NasDem, pertama-tama dia gencar tapi tak akan besar pengaruhnya karena hanya untuk memperkenalkan. Siapa sih perwakilan NasDem yang muncul? Ketika orang sudah tidak ada harapan pasti memilih orang baru, kalau NasDem karena baru," tutup Ade.
(vid/vit)
