Karyawan PT DI Ikuti Seleksi Pabrik Proton Malaysia
Senin, 02 Agu 2004 10:47 WIB
Bandung - Di tengah upaya memperjuangkan status dan hak-haknya, para karyawan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) juga terus mencoba mencari alternatif pekerjaan baru. Dengan keahlian yang dimiliki, sejumlah perusahaan asing mencoba melakukan penjajagan untuk merekrut mereka. Selama 2 hari, sejumlah karyawan anggota Serikat Pekerja Forum Komunikasi Karyawan (SP-FKK) PT DI yang telah di-PHK telah mengikuti proses seleksi dan interview dengan Sena Group, perusahaan pembuat mobil nasional Malaysia, Proton.Sekretaris Umum SP-FKK PT DI AM Bone menuturkan hal ini kepada wartawan diBandung, Senin (2/8/2004). Menurut Bone, kesediaan sejumlah karyawan untuk mencoba mencari pekerjaan alternatif lain itu bukanlah merupakan sikap menyerah. "Kalau soal perjuangan memperoleh hak-hak kami itu, tiada kompromi. Jangankan manajemen, kalau pemerintah juga bertindak dzalim terhadap hak-hak kami, tentu kami akan tetap menuntutnya," tegas Bone.Kesediaan para karyawan untuk mengikuti seleksi itu selain memang upaya memberikan nafkah kepada keluarganya, juga untuk menunjukkan bahwa anggotaSP-FKK juga merupakan tenaga yang qualified dan memiliki keahlian. "Memang menjadi ironi, manakala di negeri sendiri keahlian kami ini tidak bisa dipergunakan. Justru orang lain yang lebih memperhatikan kami," tuturnya.Bone menuturkan bahwa rencananya Sena Group itu akan merekrut sekitar 65 orang tenaga berkeahlian, terutama dengan kualifikasi CNC Program, CNC Operator Machine dan Quality Assurance (QA). "Mereka akan diserahi tugas dan tanggung jawab pembuatan spare part Original Equipment Manufacture (OEM) mobil Proton," papar Bone lagi.Bahkan Bone mendengar dan juga berharap, rencana Sena Group itu nantinya untuk membuka pabrik spare part mobil Proton di Jabar bias terwujud. Saya dengar ada rencana itu. Bahkan pimpinan perusahaan itu ada rencana berkunjung ke Bandung untuk bertemu dengan pimpinan daerah di sini, menjajagi kemungkinan itu. "Mudah-mudahan saja bias direalisasikan," harapnya.Sementara itu ketika ditanya soal rencana laporan dugaan kasus manipulasi dana pensiun dan pesangon yang dilakukan manajemen PT DI, Bone menuturkan bahwa pihaknya masih menyusun berkasnya. Rencananya, minggu-minggu depan ini sudah bisa diserahkan. "Entah ke Kejaksaan atau ke polisi," kata Bone. Menurut Bone, SP-FKK memperoleh laporan dan bukti bahwa ternyata dana pesangon yang dimintakan direksi PT DI kepada pemerintah ternyata ada data yang tidak benar. Ada banyak nama karyawan yang sudah pensiun lebih dulu, bahkan juga meninggal dunia masih dimasukkan ke dalam daftar penerima pesangon. "Entah dananya diapakan oleh direksi. Jumlahnya cukup besar. Kami masih hitung totalnya," demikian Bone.
(nrl/)











































