Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto menjelaskan, perebutan teritorial ormas ini ditandai dengan pemasangan bendera ormas. Bila ormas lain yang mengakui kawasan tersebut adalah daerah kekuasannya, maka pihak ormas tersebut akan mencabut bendera ormas lawannya.
"Penyebabnya sederhana, masalah sepele poinnya, tapi bagi ormas itu menyangkut teritorial. Seperti cabut bendera, kemudian rusak posnya," kata Rikwanto kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (15/2/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Artinya ada yang memasang bendera kemudian bersinggungan dengan wilayah yang mereka klaim, lalu tersinggung, lalu dicabut sehingga terjadi bentrokan," jelasnya.
Rikwanto melanjutkan, pihaknya telah melakukan berbagai upaya untuk meredam aksi anarkis ormas tersebut. Mulai dari tindakan preventif hingga represif dilakukan aparat kepolisian guna meminimalisir tindakan di luar hukum.
"Sudah banyak mulai dari mediasi, dipertemukan sampai kalau melanggar hukum kita tindak," katanya.
Berdasarkan catatan Humas Polda Metro Jaya, sepanjang 2012 ini sudah terjadi 11 bentrokan antar-ormas di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa di antaranya dipicu karena masalah bendera.
Sementara pada tahun 2011, Polda Metro Jaya mencatat, keributan FBR dengan warga sebanyak 16 kali dan FPI sebanyak satu kali.
(mei/mad)











































