Pantauan detikcom, aksi teaterikal itu dilakukan aktivis Yogyakarta, Joko Utomo, di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (15/2/2012).
Joko berteaterikal dengan diiringi lagu daerah Batak 'Butet' yang diputar dari kaset. Selama 15 menit Joko melakukan gerakan mengangkat dan menusuk dengan bambu runcing. Joko memberi judul taterikalnya 'Abraham Samad Disandera Busyro Muqoddas: Opera Batak'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di antara massa Garasi, terdapat seniman asal Manado, Bona Paputungan, yang terkenal karena mencipta dan menyanyikan lagu 'Andai Aku Gayus Tambunan'. Kali ini Bona, yang mengenakan jaket kulit serta bercelana jeans dan berkacamata hitam, dengan gitarnya menyanyikan lagu barunya, masih tentang korupsi yang berjudul 'Nazaruddin Berkicau'.
"Nazaruddin jangan hanya berhenti pada Angie dan Anas. Tapi teruslah mengatakan sejujurnya apakah Ketua Dewan Pembina juga ikut terlibat dan menikmati 'apel malang' dan 'apel washington'," jelas Bona usai menyanyikan lagunya.
Di antara aksi teaterikal Joko dan aksi menyanyi Bona, ada korlap Garasi Isti Nugroho yang berorasi. "Akibat gurita korupsi yang membelit dan mencekik negeri ini, hak-hak mendasar rakyat untuk dilayani oleh negara menjadi lenyap. Seperti hak mendapatkan keadilan, pelayanan sosial, pendidikan kesehatan dan lapangan kerja. Karena itu rezim korupsi harus dihentikan," teriak Isti.
Mereka juga menuntut KPK segera menuntaskan kasus mega korupsi seperti yang dijanjikan oleh Abraham Samad. KPK pun diminta tegas dan obyektif serta memiliki output yang signifikan karena rakyat tidak menghendaki KPK seperti keong.
"KPK jangan menjadi boneka, KPK harus mnunjukkan kepada rakyat keberanian untuk menciptakan keadilan, hakim dan jaksa jangan menutup mata terhadap orang-orang yang terlibat kasus wisma atlet," jelas Isti.
(nwk/vit)











































