Aksi Teaterikal di KPK Sindir Abraham Disandera Busyro

Aksi Teaterikal di KPK Sindir Abraham Disandera Busyro

- detikNews
Rabu, 15 Feb 2012 13:28 WIB
Aksi Teaterikal di KPK Sindir Abraham Disandera Busyro
Jakarta - Seorang laki-laki bercelana pendek dari karung goni, bertelanjang dada dan berselendang ulos, serta memakai ikat kepala dari ulos. Dia membawa dan mengangkat bambu runcing 2 meter yang di ujungnya terdapat bendera Merah-Putih, seakan hendak berperang. Apa maksudnya?

Pantauan detikcom, aksi teaterikal itu dilakukan aktivis Yogyakarta, Joko Utomo, di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Rabu (15/2/2012).

Joko berteaterikal dengan diiringi lagu daerah Batak 'Butet' yang diputar dari kaset. Selama 15 menit Joko melakukan gerakan mengangkat dan menusuk dengan bambu runcing. Joko memberi judul taterikalnya 'Abraham Samad Disandera Busyro Muqoddas: Opera Batak'.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teaterikal itu diusung massa Gerakan Antikorupsi (Garasi), yang membawa sekitar 20-an orang. Mereka membawa poster foto Ketua Umum PD Anas Urbaningrum yang ada tulisannya 'Kapan ditahan?'. Mereka juga membawa spanduk berukuran 3x2 meter berwarna putih dengan tulisan kapital 'KPK BUKAN KEONG' warna merah dengan gambar keong cokelat di atasnya.

Di antara massa Garasi, terdapat seniman asal Manado, Bona Paputungan, yang terkenal karena mencipta dan menyanyikan lagu 'Andai Aku Gayus Tambunan'. Kali ini Bona, yang mengenakan jaket kulit serta bercelana jeans dan berkacamata hitam, dengan gitarnya menyanyikan lagu barunya, masih tentang korupsi yang berjudul 'Nazaruddin Berkicau'.

"Nazaruddin jangan hanya berhenti pada Angie dan Anas. Tapi teruslah mengatakan sejujurnya apakah Ketua Dewan Pembina juga ikut terlibat dan menikmati 'apel malang' dan 'apel washington'," jelas Bona usai menyanyikan lagunya.

Di antara aksi teaterikal Joko dan aksi menyanyi Bona, ada korlap Garasi Isti Nugroho yang berorasi. "Akibat gurita korupsi yang membelit dan mencekik negeri ini, hak-hak mendasar rakyat untuk dilayani oleh negara menjadi lenyap. Seperti hak mendapatkan keadilan, pelayanan sosial, pendidikan kesehatan dan lapangan kerja. Karena itu rezim korupsi harus dihentikan," teriak Isti.

Mereka juga menuntut KPK segera menuntaskan kasus mega korupsi seperti yang dijanjikan oleh Abraham Samad. KPK pun diminta tegas dan obyektif serta memiliki output yang signifikan karena rakyat tidak menghendaki KPK seperti keong.

"KPK jangan menjadi boneka, KPK harus mnunjukkan kepada rakyat keberanian untuk menciptakan keadilan, hakim dan jaksa jangan menutup mata terhadap orang-orang yang terlibat kasus wisma atlet," jelas Isti.

(nwk/vit)



Berita Terkait